Terkait postingan saya sebelumnya, ternyata koneksi data Telkomsel Flash dari kartu Simpati, berfungsi kembali. Saya tarik pernyataan saya sebelumnya. Telkomsel bukan payah, tapi aneh. Yah, namanya juga Indonesia.
Telkomsel Payah
November 11, 2009 · Leave a Comment
Beberapa waktu yang lalu, saya pernah berlangganan Telkomsel Flash Unlimited. Tidak melalui jalur resmi memang. Pokoknya ada yang menawarkan berlangganan, urusan administrasi seperti pembayaran dan sebagainya, ditangani oleh yang bersangkutan. Apa yang membuat saya tertarik adalah, katanya, kecepatan akses tidak akan berkurang walaupun kuota 3 gigabit telah lewat. Bulan pertama dan kedua lancar. Bulan ketiga pun sebenarnya begitu, tetapi pada akhir bulan tiba-tiba kartu SIM tidak bisa digunakan lagi. Kata si penjual, kartu bisa diganti. Bulan berikutnya, terjadi lagi hal yang sama. Kali ini saya harus menunggu selama satu bulan untuk mendapatkan kartu pengganti. Selama satu bulan itu pula saya mempertimbangkan apakah hendak terus atau berhenti berlangganan.
Saya putuskan untuk berhenti berlangganan karena capek juga menunggu penggantian kartu, kalau tiba-tiba kartu tidak bisa digunakan. Bisa jadi kartu SIM Flash Unlimited tersebut tiba-tiba tidak bisa dipakai karena sistem mengenalinya sebagai kartu yang dijual tidak lewat jalur resmi. Artinya, tidak ada garansi bahwa kartu tersebut bisa dipakai ’selamanya’. Dengan alasan tersebut, saya memilih untuk menggunakan Telkomsel Flash Time-Based. Dari segi biaya lebih mahal memang, tetapi di sisi lain memiliki keunggulan dari segi kecepatan akses. Juga, mungkin, tidak akan mengalami masalah kartu SIM seperti sebelumnya.
Ternyata, pagi tadi saya tiba-tiba tidak bisa menggunakan kartu SIM Telkomsel untuk akses data. Saya coba untuk telepon, bisa. Artinya tidak ada kerusakan pada kartu SIM untuk koneksi suara. Wah, padahal masih ada sisa waktu akses 15 jam Telkomsel Flash. Kalau dihitung, 24 jam akses itu sama dengan 100 ribu maka 15 jam setara dengan Rp. 62.500. Bayangkan jika ada seribu orang yang mengalami kasus yang sama dengan saya, Telkomsel mendapatkan keuntungan 62,5 juta, hanya dengan memutuskan layanan secara sepihak. Belum lagi kasus koneksi siluman, dimana kita sudah berhenti mengakses internet, tetapi meteran akses Flash jalan terus.
Bukan kali ini saja saya merasa dirugikan oleh putusnya layanan seperti ini. Di antara Anda, mungkin banyak juga ya, yang merasa bahwa Telkomsel payah. Selama ini saya tidak ambil pusing dengan kabar tersebut karena merasa ada yang lebih payah lagi, layanan pasca bayar operator seluler tapi sinyal pun tak ada. Biaya SMS, koneksi data mahal. Juga tidak ada bonus-bonus. Kata iklannya sih bakal nyambung terus…. kalau sinyal bagus. Saat berhenti berlangganan, setelah selama 5 tahun berusaha untuk setia, ditanya pun tidak oleh customer service, mengapa berhenti berlangganan. Bah, perusahaan macam apa itu yang tidak peduli dengan ketidakpuasan pelanggan. Mungkin mereka berpikir, hilang satu tumbuh seribu.
Saya pikir, Telkomsel sebagai operator seluler dengan pelanggan terbanyak dan sinyal terluas (katanya), pasti tidak akan mengecewakan pelanggannya. Jauh panggang daripada asap, sama saja Bung. Selama ini kita membeli layanan tetapi tidak pernah ada garansi. Anehnya, kita tidak pernah kapok lagi untuk membeli. Mau lapor lewat layanan pengaduan daring, daftarnya juga lama.
Ah, sudahlah saya hentikan saja keluhan ini. Nanti kalau terlalu panjang, bisa-bisa saya dituntut atas pencemaran nama baik. Saatnya kembali ke jaman urdu, yang pasti lebih baik untuk kantong, dan hati.
Technorati Tags: telkomsel, internet, unlimited

→ Leave a CommentCategories: Ngedumel
Masih Ada Harapan
October 8, 2009 · 1 Comment
Berolah raga, seperti futsal, seharusnya merupakan sebuah cara agar kita menjadi sehat, jiwa dan raga. Berolah raga idealnya dilakoni dengan hati senang, jangan sampai uring-uringan seperti yang saya alami kemarin. Bagaimana tidak uring-uringan, hingga pukul 16.30 baru ada lima orang yang hadir di lapangan. Cilaka. Saat itu saya pundung, hingga berniat untuk tidak akan lagi secara sukarela mengurus keinginan teman-teman yang katanya ingin bermain futsal. Saya pun sempat berujar pada seorang teman, “Yuk ah kita bayar lapang terus pulang”. Tapi alhamdulillah, ada serombongan malaikat kecil yang menjadi penyelamat.
→ 1 CommentCategories: Mimpi
Tagged: futsal, indonesia, sepak bola
Jumlah Jari
October 1, 2009 · Leave a Comment
Ibu : “Kalau berhitung, tak usah gunakan jari. Bayangkan saja. Kan sulit kalau menjumlahkan angka puluhan. Jumlah jari kan hanya sepuluh”
Fauzan : (Diam sejenak sambil berpikir) “Bukan sepuluh, Bu”
Ibu : “Sepuluh, ah”.
Fauzan : “Bukan!” (agak ngotot, sambil mengangkat tangan dan kakinya) “Tuh Bu, dua puluh!”
Ibu : “Hihihi… Benar juga ya”
→ Leave a CommentCategories: Keluarga
Tagged: berhitung, jari, Keluarga
Ban Kempes
September 10, 2009 · Leave a Comment
Supir angkot : Aduh punten, Ibu harus turun di sini. Ban mobilnya kempes.
Ibu dan Fauzan turun.
Fauzan : (Sambil memegang ban kiri depan angkot) Mana Pak, bannya gak kempes kok? (seolah-olah tidak percaya apa yang dikatakan Pak Supir).
Ibu : Maksudnya Pak Supir, ban mobil yang belakang.
Fauzan : Ooh, hayu Bu kita naik angkot lagi.
Ibu : Tanggung Fauzan, sudah dekat.
Fauzan kemudian berjalan sambil manyun.

→ Leave a CommentCategories: Keluarga
Tagged: Keluarga, kisah lucu
Ketika Lewat Purnama
September 9, 2009 · Leave a Comment
Adakah di antara kita yang tadi malam sepulang tarawih atau pagi tadi sehabis solat Subuh berjamah, yang memperhatikan bulan di langit? Pantulan cahayanya masih cukup menyinari gelapnya malam tapi bentuknya tak lagi sempurna. Ia tak lagi purnama, pertanda setengah bulan Ramadhan telah kita lalui. Gembirakah kita karena sebentar lagi Lebaran? Atau sedih karena sebentar lagi akan hilang sebuah suasana yang membuat kita lebih mudah beramal? Coba kita renungkan. Keep reading →
→ Leave a CommentCategories: Faith
Tagged: ramadhan, takwa
Tak Lagi Apatis
September 7, 2009 · Leave a Comment
Pada awalnya, menulis di blog bagi saya adalah sebagai tempat untuk berkeluh-kesah, tempat ngomel. Tahu sendiri kan Indonesia seperti apa. Banyak hal yang bisa kita umpat. Tak terhitung. Saya pikir, dengan mengomel, saya mencoba bersikap kritis dan bisa mengubah pandangan serta perilaku lain. Kenyataannya? Jauh panggang daripada asap. Gak ngaruh men …
Keep reading →
→ Leave a CommentCategories: Faith · Mimpi
Mac OS X + VNC + Internet: solusi bekerja dari rumah
September 6, 2009 · 1 Comment
Seberapa sering Anda bekerja sampai larut di kantor karena ingin menyelesaikan pekerjaan? Atau seberapa sering Anda menyalin pekerjaan dan melanjutkannya di rumah? Cukup sering kah? Kalau ya, berarti nasib Anda sama dengan saya. Tapi itu dulu, sekarang saya bisa pulang lebih cepat, pekerjaan masih disimpan dalam komputer di kantor tetapi bisa saya lanjutkan di rumah. Kok bisa? Keep reading →
Berbagi Printer
July 30, 2009 · Leave a Comment
Ada dan berfungsinya sebuah printer di kantor adalah sebuah kebutuhan. Setidaknya menurut pendapat saya. Ada tapi tidak berfungsi, ya pasti membuat kesal. Seperti yang saya alami berulang-ulang. Mengapa bisa demikian? Karena berbagi printer di kantor ternyata tidaklah mudah. Ada orang yang main angkut saja. Begitu perlu printer, diangkutlah printer tersebut ke mejanya. Dan lupa untuk dikembalikan. Ada orang yang tahunya pakai saja. Begitu rusak, ia beralih ke printer lain yang masih berfungsi, tidak mencoba untuk memperbaiki dahulu kondisi printer yang rusak tersebut. Karena tidak tahan, akhirnya saya terpaksa membeli printer. Untuk dipakai sendirikah? Tidak lah. Rekan yang lain boleh menggunakannya, asal dengan protokol tertentu.
→ Leave a CommentCategories: Mac · OpenSource
Tagged: Mac, open source, printer, sharing