Jangan Asal Bicara

Ada pepatah mengatakan, ‘mulutmu harimaumu’. Di dalam Islam, kita juga tahu bahwa ‘ucapan adalah do’a’. Dua hal ini yang langsung ada dalam ingatan saya setelah membaca status Facebook seorang teman. Ada satu cerita yang masih tersimpan rapi di otak saya, sebuah kisah yang dituturkan oleh ayah dari sahabat saya, Yuvan. Begini ceritanya … Continue reading

Coba pikir-pikir lagi

Setelah 4 jam terus-menerus bertelepon menanggapi seseorang yang mengalami depresi berat …

Sukarelawan : “Hey bung, melihat masalah Anda begitu berat, pernahkah Anda berpikir untuk bunuh diri?”

Anonimus : “Tidak pernah dan tidak akan pernah. Haram hukumnya tahu?”

Sukarelawan : “Hmm.. sebaiknya Anda mulai pikirkan itu dari sekarang.”

(Sambil berharap sambungan telepon diputus).

Anonimus : “&$^&$^!!!”.

 

Masih Ada Orang Baik

Saya termasuk salah seorang yang tidak percaya bahwa Indonesia akan menjadi sebuah negara maju. Lah bagaimana mau maju, hampir semua elemen bangsa ini hanya berpikir tentang dirinya, golongannya sendiri. Kita bisa tengok apa yang tersaji di media massa. Kita juga bisa lihat bagaimana mentalitas bangsa ini di jalan raya. Semuanya ingin menang sendiri. Sebuah bangsa hanya akan menjadi maju jika rakyatnya mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Ini tidak dimiliki oleh mayoritas bangsa Indonesia. Begitu pikirku selama ini. Hanya saja dua hari yang lalu, saya menyadari ternyata masih ada orang baik di negeri. Orang baik yang mungkin saja menjadi sebab bangsa ini bangkit dari keterbelakangan.
Continue reading

Sopan santun

Dokter jaga: Bayi Ny. Wawan?

Ayah : Ny. Wawang, ya.

Dokter jaga: Anak ke berapa?

Ayah : Kedua Dok.

Dokter jaga : Ada riwayat kuning?

Ayah : Tidak ada Dok.

Dokter memeriksa detak jantung anak kami yang kedua, sementara Ibu sudah bangun.

Ibu : Kira-kira kenapa ya Dok, bisa kuning, padahal anak pertama kami tidak begitu?

Dokter jaga : ….

Dokter jaga : Tolong ini nanti kalau panas, tirainya dibuka ya.

Setelah itu, dokter jaga ngeloyor pergi, membelakangi kami berdua.

Kami berdua terpana. Saya berpikir, “Loh, si dokter mau pergi kemana? Kok gak bilang-bilang?”. Dokter jaga itu memang masih muda, mungkin masih di bawah 30 tahun. Tapi seusia itu kan harusnya tahu tatakrama. Saya tidak habis pikir, apakah untuk mendapat sertifikat dokter tidak diajarkan sopan santun. Padahal tadi malam, saya melihat di meja resepsionis ada SOP untuk menjawab telepon. Mereka dianjurkan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu. Lah ini, dokter yang secara intelektual lebih tinggi dibandingkan resepsionis, tapi datang tidak mengucapkan salam, pergi pun tak pamit.

Dokter jaga kok kalah oleh petugas penyapu lantai. Mereka saat datang mengucapkan salam, secara islami pula. Saat menyapu dan mengepel lantai pun mengucapkan permisi karena mengganggu. Saya jadi berpikir, apakah memang ada yang salah dengan budaya kita saat ini? Apakah sopan santun hanya berlaku bagi mereka yang (dianggap) lebih rendah bukan bagi mereka yang kastanya lebih tinggi?

Memang, kami baru menemukan satu kasus seperti ini. Mungkin beliau lupa. Atau memang begitu karakternya, cuek. Kami hanya berkomentar saja, lewat  blog ini, mudah-mudahan yang umum bukanlah seperti ini. Seperti dokter jaga tadi malam, yang begitu ramah, penuh senyum melayani kami hingga anak kami sampai ke ruangan perawatan. Mudah-mudahan ini hanya perasaan Dik Firman saja.

Multitugas

Salah satu hal yang terpaksa dilakukan seorang suami saat istri bekerja adalah mengasuh anak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pada dasarnya seorang suami tidak mau menjalankan peran istri dalam menjaga dan mengasuh anak. Salah satu alasannya karena tidak mau pekerjaannya terganggu. Kalaupun dijalani, yang biasanya terjadi adalah sang ayah tetap ayik dengan laptopnya sementara si anak bermain sendirian tanpa pengawasan. Setidaknya itulah yang biasa saya lakukan. Hasilnya? Anak menjadi tidak terawat secara fisik maupun psikisnya (alias kurang bermain). Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Mau tahu triknya?

Continue reading

Dua jam yang begitu bermakna

Juli 2002. Di sebuah ruang kuliah, tidak ber-AC, satu buah meja kayu dan dua kursi merk Chitose dengan posisi saling berhadapan. Salah satunya menghadap ke utara diduduki olehku, yang saat itu merasa seperti seorang pesakitan. Jantungku berdegup kencang, duduk salah tingkah, jari-jari tangan bergerak tanpa disadari. Orang Sunda bilang, “teu puguh cagap“. Pertama kalinya dalam hidup menjalani sebuah wawancara, setelah satu tahun lebih diluluskan dari bangku kuliah. Bukan wawancara kerja tetapi wawancara untuk kuliah lagi. Sebuah pilihan yang mau tidak mau harus kuambil saat itu. Juga bukan wawancara biasa, karena ada sebagian isinya yang masih begitu jelas dalam ingatan.

Continue reading

Tips bagi para pencari jurnal

Jurnal atau literatur ilmiah merupakan salah satu kunci suksesnya sebuah tugas akhir, baik bagi mahasiswa tingkat sarjana ataupun pascasarjana. Bila si penguji melihat daftar pustaka yang berderet hingga puluhan atau bahkan ratusan (walaupun si penulis tidak memahaminya dengan baik), kemungkinan besar tidak akan ada pertanyaan yang menjatuhkan. Sebaliknya jika hanya sedikit, pasti si penulis akan dianggap tidak serius dalam melakukan penelitian. Tambah cilaka lagi,  jika daftar pustaka yang dituliskan sebagian besarnya adalah buku referensi bukan jurnal tahun terkini. Nah, pagi ini saya menemukan sebuah tips yang mungkin bermanfaat bagi Anda para pencari jurnal, setidaknya itulah yang saya rasakan.

Continue reading

Cuma setengah

Porsi makan setiap orang berbeda. Meminjam istilah seorang teman, beda casing. Ada yang cuma setengah porsi, itupun bukan nasi. Ada juga yang sampai 4 piring nasi, itupun dengan porsi nasi penuh dan bentuknya seperti Gunung Semeru. Bagi mereka yang porsi makannya cuma setengah (tapi sering), seperti (ehm) saya, biasanya akan mendapatkan masalah saat memesan makanan di warung makan.

Continue reading

Skakmat

Fauzan : Ibu, ada kereta terbang (sambil menunjuk Dibo di televisi)

Ibu : Oh iya, bagus ya…

Ayah : Kereta kok bisa terbang?

Fauzan : (Diam sejenak) Namanya juga cerita …

Ayah dan ibu : Hahahaha.. (nah loh! skakmat!)

Gerbong Wisata

Hari minggu lalu, pukul 17.20 saya tiba di Stasiun Kereta Api Bandung. Nampak ramai orang yang antri. Waduh, jangan-jangan tiket untuk ke Jakarta telah habis. Begitu yang terpikir oleh saya taxi. Benar saja. Tiket Argo Gede sudah habis. Tiket Parahyangan hanya tersisa khusus tiket berdiri. Yang tersedia hanyalah tiket wisata. Wisata macam apa, pikirku. Tapi itu bukanlah hal penting saat itu. Apa mau dikata, harus tiba di Jakarta malam itu, uang seratus ribu rupiah dikeluarkan.

Gerbong wisata ini satu rangkaian dengan gerbong eksekutif, hanya saja tidak selalu ada. Letak gerbong ini tepat di belakang lokomotif. Ada dua gerbong, Nusantara dan Bali. Gerbong Nusantara terdiri dari dua ruangan, ruang makan dan ruang duduk. Gerbong Bali, nampaknya merupakan ruangan tidur, dari luar seperti terlihat kasur busa.

Ruang duduk di Gerbong Nusantara ini terdiri dari sofa yang sudah pasti nyaman. Yang istimewa, di ruangan ini ada TV LCD dan sistem audio video yang memungkinkan kita untuk berkaraoke. Kalau beruntung mungkin kita bisa mendengarkan suara merdu bak suara biduan. Kalau sedang apes, kita pasti tak akan bisa tidur nyenyak!.

Gerbong wisata ini pernah dipakai presiden mulai Habibie sampai SBY. Jadi sudah pasti fasilitasnya nomor satu. Toiletnya bersih, dengan air, tissu juga pengering tangan otomatis. Selain bersih, juga luas. Pelayanan dari pegawainya pun ramah. Hanya satu kurangnya, jam dindingnya kok mati ya? (Jam kok mati, memangnya kucing!)