RGB Color Correction di TileMill

Semalam suntuk kami berusaha mencari cara bagaimana melakukan setting RGB di TileMill, sehingga data yang bernilai NULL atau NODATA menjadi transparan. Kami menemukan situs http://www.mapbox.com/blog/tilemill-raster-colorizer-analysis/ , namun setelah (seperti biasa), copy-paste kodenya, ada pesan kesalahan bahwa raster-colorizer-default-mode tidak dikenal. Pesan ini muncul karena TileMill yang kami gunakan merupakan versi stabil, sedangkan fungsi di atas baru ada di versi development. Oleh karena itu, kami update TileMill menjadi versi development. Sebagai catatan, kita hanya bisa melakukan update apabila memilih Install Developer Builds pada Updates Preferences.

Berikut kode yang kami gunakan, sehingga citra awal seperti pada Gambar 1, berubah menjadi seperti pada Gambar 2. Yang perlu diperhatikan adalah:

raster-colorizer-epsilon:0.2; 
Nilai 0.2 merupakan simpangan baku dari histogram
stop(0,transparent)
Angka 0 adalah angka digital yang merupakan representasi nilai NULL atau NODATA

stop(1,#000)
Angka 1 adalah angka digital yang merupakan nilai minimum citra, dan diberikan warna hitam
stop(255,rgb(255,0,0))
Angka 255 adalah angka digital yang merupakan nilai maksimum citra. Apabila datanya 8bit, maka nilainya adalah 255, sedangkan apabila datanya 11 bit, maka nilainya adalah 2^11.

style.mss

#red {
raster-scaling:gaussian;
raster-comp-op:plus;
raster-colorizer-default-mode:linear;
raster-colorizer-default-color: transparent;
raster-colorizer-epsilon:0.2;
raster-colorizer-stops:
stop(0,transparent)
stop(1,#000)
stop(255,rgb(255,0,0))
}

#green {
raster-scaling:gaussian;
raster-comp-op:plus;
raster-colorizer-default-mode:linear;
raster-colorizer-default-color: transparent;
raster-colorizer-epsilon:0.2;
raster-colorizer-stops:
stop(0,transparent)
stop(1,#000)
stop(255,rgb(0,255,0))
}

#blue {
raster-scaling:gaussian;
raster-comp-op:plus;
raster-colorizer-default-mode:linear;
raster-colorizer-default-color: transparent;
raster-colorizer-epsilon:0.2;
raster-colorizer-stops:
stop(0,transparent)
stop(1,#000)
stop(255,rgb(0,0,255))
}

Visualisasi RGB

Gambar 1. Visualisasi RGB Sebelum Koreksi

Screen Shot 2013-06-06 at 12.31.22 PM

Gambar 2. Visualisasi RGB setelah koreksi

Saba kota

Dulu, sebelum kucing berbulu, saya pernah berkata pada diri sendiri, “tak sudi, tak rela bekerja di Jakarta”. Kehidupannya keras, panas, macet, bisa-bisa tua di jalan. Ternyata e ternyata, hari Rabu tanggal 2 Januari 2013, secara de facto saya mulai bekerja tetap di ibu kota.

Tidak seperti Kabayan yang berangkat ke Ibu Kota dalam rangka mengejar Nyi Iteung, saya mengadu nasib di Jakarta untuk mengejar mimpi. Tidak mungkin saya mengejar Nyi Iteung juga, nanti berantem sama Kabayan dan bini di rumah dong :P.

Lalu mimpi saya apa? Sulit untuk menuliskannya, lha saya kan sedang bangun. Kalau sedang tidur, baru bisa saya tulis, itu pun kalau saya tidak lupa hihihihihi …

Konversi data vektor ke raster

GRASS GIS, sebuah perangkat lunak open source remote sensing / GIS, adalah perangkat lunak andalan saya dalam melakukan proses konversi data dari vektor ke raster. Mengapa? Karena GRASS GIS dapat diandalkan dalam cleaning topology. Seringkali kita mendapatkan data vektor yang tidak jelas asal-usulnya, tidak jelas pula topologinya. Kalau begini, kadang-kadang (atau sering), saat kita menghitung luas kelas lahan tertentu misalnya, luas total obyeknya akan lebih besar dari luas wilayah sebenarnya. Nah, di sinilah GRASS GIS bisa menjadi pahlawan bertopeng, penolong untuk mempercepat proses analisis :D .

Baca lebih lanjut

To change is the key to survive

There are 31,530,000 seconds in a year
1,000 milliseconds in a second
A million microseconds
A billion nanoseconds
And the one constant, connecting nanoseconds to years
is change.

The universe.
From atom to galaxy,
is in a perpetual state of flux.

But we humans
don’t like change.
We fight it. It scares us.

So we create the illusion of stasis.
We want to believe in a world at rest,
the world of right now.

Yet our great paradox
remains the same…

The moment
we grasp the “now”…
that “now” is gone.

We cling to snapshots.
But life is moving pictures.
Each nanosecond
different from the last.

Time forces us to grow.
To adapt.
Because every time
we blink our eyes…
the world shifts beneath our feet.

……

Change isn’t easy
More often, it’s wrenching and difficult.
But maybe that’s a good thing
that makes us strong.
Keeps us resilient
It teaches us to evolve

(Jake Bohm, Touch S01E12)

Jangan Asal Bicara

Ada pepatah mengatakan, ‘mulutmu harimaumu’. Di dalam Islam, kita juga tahu bahwa ‘ucapan adalah do’a’. Dua hal ini yang langsung ada dalam ingatan saya setelah membaca status Facebook seorang teman. Ada satu cerita yang masih tersimpan rapi di otak saya, sebuah kisah yang dituturkan oleh ayah dari sahabat saya, Yuvan. Begini ceritanya … Baca lebih lanjut

Coba pikir-pikir lagi

Setelah 4 jam terus-menerus bertelepon menanggapi seseorang yang mengalami depresi berat …

Sukarelawan : “Hey bung, melihat masalah Anda begitu berat, pernahkah Anda berpikir untuk bunuh diri?”

Anonimus : “Tidak pernah dan tidak akan pernah. Haram hukumnya tahu?”

Sukarelawan : “Hmm.. sebaiknya Anda mulai pikirkan itu dari sekarang.”

(Sambil berharap sambungan telepon diputus).

Anonimus : “&$^&$^!!!”.

 

Masih Ada Orang Baik

Saya termasuk salah seorang yang tidak percaya bahwa Indonesia akan menjadi sebuah negara maju. Lah bagaimana mau maju, hampir semua elemen bangsa ini hanya berpikir tentang dirinya, golongannya sendiri. Kita bisa tengok apa yang tersaji di media massa. Kita juga bisa lihat bagaimana mentalitas bangsa ini di jalan raya. Semuanya ingin menang sendiri. Sebuah bangsa hanya akan menjadi maju jika rakyatnya mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Ini tidak dimiliki oleh mayoritas bangsa Indonesia. Begitu pikirku selama ini. Hanya saja dua hari yang lalu, saya menyadari ternyata masih ada orang baik di negeri. Orang baik yang mungkin saja menjadi sebab bangsa ini bangkit dari keterbelakangan.
Baca lebih lanjut