Arsip Tag: Memoar

Dua jam yang begitu bermakna

Juli 2002. Di sebuah ruang kuliah, tidak ber-AC, satu buah meja kayu dan dua kursi merk Chitose dengan posisi saling berhadapan. Salah satunya menghadap ke utara diduduki olehku, yang saat itu merasa seperti seorang pesakitan. Jantungku berdegup kencang, duduk salah tingkah, jari-jari tangan bergerak tanpa disadari. Orang Sunda bilang, “teu puguh cagap“. Pertama kalinya dalam hidup menjalani sebuah wawancara, setelah satu tahun lebih diluluskan dari bangku kuliah. Bukan wawancara kerja tetapi wawancara untuk kuliah lagi. Sebuah pilihan yang mau tidak mau harus kuambil saat itu. Juga bukan wawancara biasa, karena ada sebagian isinya yang masih begitu jelas dalam ingatan.

Lanjut membaca

Rasanya masih sama

Lebaran kemarin, masih seperti yang dulu, tidak berubah dari tahun ke tahun. Biasanya, kami berkumpul di rumah nenek di Ciluar, Bogor. Anak-anak, keponakan, cucu dan cicitnya tumplek di rumahnya yang sederhana. Biasanya, aku malas berlama-lama di sana saat lebaran. Tapi kali ini, ingin rasanya ngobrol ngalor-ngidul, bersenda gurau dengan mereka. Lebaran kali ini, juga ada yang berbeda. Ada yang tidak hadir saat itu. Mereka telah dipanggil oleh Allah SWT. Ingin rasanya mengulang masa-masa indah seperti dahulu. Yang membuat sebuah rasa yang masih sama hingga kini. Apa itu? Wajit buat nenek. Lho?

Lanjut membaca