Belajar berkasih sayang dari Burung Cinenen

Kasih sayang nampaknya sudah menjadi barang langka di negeri ini, sebuah negeri yang dikenal ramah oleh dunia. Begitu banyak berita dan tontonan kita dengar dan lihat setiap hari, yang menggambarkan ketiadaan kasih sayang dalam diri kita. Berapa banyak orang yang tega menghilangkan nyawa temannya sendiri hanya karena perselisihan kecil atau demi memperebutkan uang seribu rupiah. Juga tidak terhitung lagi berita yang mengisahkan seorang ibu yang tega membunuh bayinya karena malu karena bayinya adalah hasil dari hubungan di luar nikah, atau bahkan hanya karena tidak tahan mendengar tangisannya.

Manusia sesungguhnya merupakan makhluk yang mulia. Ia dikaruniai akal dan budi pekerti oleh Tuhan, sehingga ia tidak dapat disamakan dengan hewan. Dengan akal dan budinya, manusia mampu menciptakan atau lebih tepat disebut dengan merubah bentuk sesuatu menjadi yang lebih berguna bagi dirinya. Namun yang terjadi kini adalah manusia memiliki derajat yang lebih rendah dari binatang.

Burung

Siapapun akan setuju bahwa burung adalah hewan, titik. Tidak kurang dan tidak lebih. Sebagaimana hewan pada umumnya, burung tidak mungkin memiliki akal dan budi pekerti. Burung hanya memiliki naluri, begitu kata banyak orang. Apa yang diperbuatnya hanya mengikuti nalurinya saja. Orang tidak akan mengatakan bahwa burung elang itu kejam karena memangsa burung lain, atau menyebutkan bahwa burung kuntul itu sadis karena membunuh salah satu dari empat atau lima anaknya agar anaknya yang lain dapat hidup pada saat musim paceklik.

Lalu apa yang hendak dikatakan bila ada satu jenis burung yang membantu jenis burung yang lain padahal ia telah membunuh anaknya sendiri? Anak burung tersebut dititipkan sejak masih berupa telur dan pada saat menetas ia akan menendang semua telur yang ada keluar sarang. Kejadian ini memang ada dan telah banyak disebutkan di banyak literatur tentang burung, namun apa yang saya lihat sendiri ternyata terasa lebih menakjubkan.

Bayangkan dimana ada satu jenis burung memberi makan anaknya dengan ukuran tubuh hampir dua kali lebih besar. Ya, sepasang burung cinenen (Orthotomus sepium) bergantian menyuapi anak angkatnya, burung wiwik kelabu (Cacomantis merulinus). Yang lebih mengagumkan lagi, kejadian ini terjadi di tempat-tempat yang menjadi tempat lalu-lalang, yaitu halaman Mesjid Salman-ITB dan di pohon belimbing belakang rumah. Tak pernah terbayangkan sebelumnya ada keajaiban yang terjadi di depan mata.

Naluri, bodoh atau bangga?

Perilaku membantu jenis hewan lain atau lebih dikenal dengan altruisme, adalah perilaku yang menguntungkan hewan lain dari jenis yang sama atau berbeda serta merugikan dirinya sendiri. Umumnya perilaku altruistis terjadi pada jenis hewan yang berkoloni, salah satu contohnya adalah lebah. Pada koloni lebah, lebah pekerja tidak dapat menghasilkan telurnya sendiri. Dalam hal ini ia dikatakan mengorbankan kemampuan reproduksinya demi kelestarian jenisnya. Pada burung biasanya terjadi dalam bentuk melindungi sarang individu lain dari ancaman pemangsa.

Altruisme menurut sebagian peneliti adalah perilaku naluriah yang dilakukan oleh sebagian jenis burung. Perilaku ini biasanya dilakukan oleh individu yang sudah cukup matang tetapi tidak memiliki kesempatan untuk bereproduksi. Hambatan yang terjadi mungkin saja tidak dapat menemukan pasangan atau tempat berbiak yang tepat. Dapat juga terjadi karena belum memiliki keterampilan yang dibutuhkan untuk membuat sarang atau membesarkan anak. Dengan bersikap altruistik, secara naluri ia dapat menyalurkan keinginannya untuk melakukan aktivitas reproduksinya. Selain itu, dengan membantu individu lain, yang biasanya masih ada hubungan keluarga, ia akan melatih keterampilan dalam membesarkan anak yang belum dikuasainya.

Dapat dikatakan bahwa perilaku altruistik bukanlah semata-mata perilaku yang merugikan si pelaku. Dari narasi di atas, nampak bahwa dengan membantu individu lain burung memperoleh keuntungan juga. Ada solusi menang-menang di sini. Bila ditinjau dari segi kelangsungan hidup spesies tersebut secara keseluruhan, jelas perilaku altruistik memberikan keuntungan yang besar sekali.

Bodoh, merupakan istilah yang biasanya digunakan oleh kita saat melihat orang lain melakukan sesuatu yang di luar akal sehat. Pikiran kita akan mengatakan betapa bodohnya seekor burung yang memberi makan anaknya dengan ukuran tubuh dua kali lebih besar. Apakah ia tidak pernah berpikir bahwa si anak burung ini bukan anaknya sendiri? Ataukah ia akan merasa bangga melihat anaknya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar? Sebagaimana yang terjadi pada manusia, dimana orang tua umumnya ingin melihat anaknya lebih pintah, lebih maju dan lebih sukses dari dirinya.

Kita tidak akan pernah tahu alasan logis yang mendasari perilaku altruistik pada burung cinenen dan wiwik kelabu. Mungkin saja wiwik kelabu pada mulanya memiliki kemampuan untuk membuat sarang dan membesarkan anak tetapi karena secara kebetulan ia menemukan cara yang lebih efektif, menitipkan telurnya pada burung cinenen. Kemungkinan lain adalah wiwik kelabu memang diciptakan Tuhan tidak mempunyai kemampuan di atas. Namun dengan kemampuan adaptasinya, wiwik kelabu berhasil menemukan cara untuk menitipkan telur, tanpa izin burung cinenen tentunya.

Lalu apa untungnya bagi burung cinenen? Pertanyaan ini tidak akan pernah terjawab secara pasti. Bisa jadi keberadaan burung wiwik kelabu memberikan keuntungan berupa sistem peringatan dini (alert system). Kebiasaan wiwik kelabu untuk bertengger di puncak-puncak pohon memberikannya kemampuan untuk mendeteksi keberadaan pemangsa lebih dini.

Bagi kita sebagai manusia, proses pencarian alasan-alasan logis atau ilmiah untuk menjelaskan tentang perilaku altruistik pada burung mungkin tidak akan pernah berakhir. Namun yang pasti adalah kita harus mengambil hikmah dari perilaku kedua jenis burung ini. Kita harus mampu untuk menyayangi siapapun , apakah dia adalah orang yang berperilaku baik atau buruk terhadap kita. Kalau kita memiliki orang yang dikasihi, hendaknlah memberikan yang terbaik baginya dengan segala macam usaha, seperti sepasang burung cinenen yang pulang-pergi mencari makanan untuk anaknya dengan isi tembolok yang lebih besar dari milik mereka!

One response to “Belajar berkasih sayang dari Burung Cinenen

  1. Altruism ya …. Jadi inget biologi umum neh.
    Setuju. Hewan memang tak berintuisi. Mereka cuma punya naluri. Tapi … tanpa akalpun, mereka yang memang sudah ditakdirkan kayak gitu, ketika melakukan sesuatu, senampak bodoh apapun itu, tak bisa dikatakan salah. Gak kayak manusia. Sebagus apapun niatnya, altruism atau bukan, yang suka jadi masalah tuh kadang malah caranya … or at least pertimbangan buat ngelakuin niatannya. Coz bukan sekedar baik, perbuatan manusia juga harus adil dan benar. Masalah tegaan atau gak tegaan. Nampak penuh kasih atau kekerasan. Yang penting sesuai ama kebutuhan. Meski gak yakin juga sih kalau dunia ini butuh kekerasan yang berlebihan kayak sekarang.

    But at least … nyambung ama bangsa kita sekarang … kayaknya gak bakalan maju2 deh kalo gak dipimpin ma orang yang agak tegaan.

    kok nyambung kesana ya?

    ya … gitu lah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s