Daripada jadi burung, mending jadi manusia

Banyak lagu atau puisi yang menggambarkan enaknya menjadi burung. Kita dapat terbang kemana pun kita suka. Tanpa hambatan. Tidak perlu bayar pajak atau bayar tol. Tapi tahukah Anda bahwa menjadi burung itu lebih banyak tidak enaknya?

PERTAMA, untuk terbang itu membutuhkan banyak energi. Energi diperoleh dari makanan. Jika tidak makan berarti tidak akan bisa terbang. Bayangkan kalau itu terjadi pada manusia. Mending jadi manusia, walaupun perut lapar asal ada uang untuk beli bensin atau naik angkot kita bisa pergi kemana pun.

Kedua, terbang merupakan salah satu kegiatan yang beresiko. Bukan resiko jatuh dari ketinggian lho. Tapi resiko menjadi santapan burung pemangsa, jika itu dilakukan oleh burung-burung yang dimangsa. Atau beresiko menghabiskan cadangan energi jika itu dilakukan oleh burung pemangsa. Artinya di sini ada perhitungan untung-rugi. Cost-benefit ratio analysis, istilah kerennya. Tentunya burung melakukannya berdasarkan insting, tidak menggunakan perangkat lunak yang rumit-rumit seperti manusia. Oleh karena itu, seringkali kita lihat ada burung yang terbangnya ramai-ramai. Ini merupakan salah satu perilaku yang diadopsi oleh burung untuk mempertahankan diri. Dengan semakin banyak burung yang terbang, maka semakin banyak mata yang mengawasi datangnya serangan burung pemangsa. Tetapi, semakin banyak anggota klub pencari makan juga akan berbahaya. Lha wong sumber makanannya juga terbatas. Inilah kebesaran Allah yang kita tidak lihat. Dalam setiap kelompok burung pencari makan akan selalu terjadi keseimbangan. Jumlah anggota dalam kelompok (flock) optimal sehingga dapat memaksimalkan asupan energi bagi seluruh anggotanya dan juga lebih aman.

Pada burung pemangsa, perilaku yang diadopsi lain lagi. Ukuran tubuh yang relatif besar membuatnya tidak bisa menerapkan teknik serangan membabi-buta, patuk sana patuk sini, untuk mendapatkan mangsanya. Ada yang menerapkan strategi berdiam diri di puncak pohon hingga dapat memantau pergerakan mangsanya. Ada yang terbang melayang-layang memanfaatkan naiknya udara panas, sehingga lebih efisien.

KETIGA, selain masalah makan dan kebutuhan akan rasa aman, burung juga perlu melakukan reproduksi. Ketiga hal ini lah yang selalu ada di pikiran burung. Jadi, pada saat mereka kawin pun, kewaspadaan akan datangnya pemangsa harus selalu ada. Bayangkan kalau ini terjadi pada manusia. Setiap kali kita ingin melakukan reproduksi, dihantui rasa was-was adanya tim penggerebek. Pasti lah tidak akan enjoy. Hihihi..

Jadi pilih mana, burung atau manusia?

Jalmiburung!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s