(Mungkin) burung migran paham konsep aerodinamika

Mulai bulan Oktober, saat di wilayah Utara bumi memasuki musim gugur, banyak jenis burung yang melakukan migrasi (berpindah lokasi) ke wilayah lain di Bumi yang lebih hangat. Burung-burung itu menempuh ribuan kilometer, untuk tetap hidup.
Kondisi yang bersalju membuat burung kekurangan makanan. Bisa diakibatkan karena makanannya itu adalah hewan-hewan yang berhibernasi atau bisa juga karena tidak ada tumbuhan yang berbunga (jelas saja.. lha wong musim dingin).

Ada sebuah fenomena yang menarik perhatianku.
Mulai tahun 1996, saya mengikuti perkembangan secara aktif dan pasif tentang migrasi burung pemangsa.
Ini dipicu oleh kegiatan yang pernah diadakan oleh Birdlife International – Indonesia Programme (kini Yayasan Burung) di Bali yaitu Raptor Watch.

Menunggu dan mengamati burung pemangsa migran merupakan sebuah pengalaman fenomenal
Jantungku selalu berdegup kencang ketika meneropong burung yang melintas
Aku tidak pernah tahu akan berapa menit atau bahkan detik kesempatan yang kudapat
Kesempatan yang sempit itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk melakukan identifikasi jenis burung migran
Juga untuk menghitung berapa jumlah mereka pada saat melintas

Satu hal yang membuatku selalu bertanya adalah mengapa burung migran lebih banyak menggunakan pegunungan sebagai jalur migrasinya.
Aku menduga, ini berkaitan dengan angin.
Pada saat musim migrasi, angin berhembus dari arah Timur ke Barat, padahal burung migran di Pulau Jawa bergerak dari Timur ke Barat.
Seringkali aku lihat mereka kepayahan saat menantang angin, terutama di wilayah pegunungan.
Sangkaanku adalah angin yang berada di antara pegunungan ini lebih kecil, dibandingkan dengan kekuatan angin di luar sabuk pegunungan.
Wajar jika mereka memilih pegunungan sebagai jalur. Yang pertama karena mereka tidak harus susah payah melawan angin. Dan yang kedua karena wilayah pegunungan ini merupakan daerah yang masih relatif alami, masih ditutup vegetasi, yang mungkin masih menjamin adanya makanan yang tersedia.

Tetapi ternyata asumsi yang pertama saya itu salah besar.
Hal ini kusadari setelah berdiskusi dengan seorang kawan, alumni Fisika ITB.
Ia mengatakan bahwa justru angin di antara pegunungan itu akan semakin besar karena penampangnya semakin kecil.
Sebagaimana arus air yang mengalir di sungai, pada saat mengalami penyempitan akan semakin deras arusnya.
Angin yang besar itu justru dimanfaatkan oleh burung untuk mengangkat tubuhnya, sehingga proses terbang akan menjadi lebih ‘menyenangkan’.
Prinsip inilah, aerodinamika, yang diterapkan pada pesawat terbang. Jadi pesawat terbang tidak pernah didesain untuk dikepakkan sayapnya agar terbang lebih cepat (???).

Ah.. akhirnya kutemukan jawaban yang selama ini kucari-cari.
Sebuah alasan yang membuatku berpikir bahwa burung lebih paham apa itu konsep aerodinamika.
Mereka sudah mempraktikkan konsep ini selama ribuan tahun dari sekian ratus generasi…
(Maybe… and that’s final)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s