The Art of What Works

Leonardo Da Vinci, semua orang kenal siapa dia. Seorang seniman yang melukis Monalisa, perempuan yang masih menjadi misteri hingga kini. Da Vinci, juga seorang futuris. Ia mengkhayalkan sebuah alat transportasi udara, seperti helikopter yang ada sekarang. Kemampuan yang dimilikinya seolah begitu banyak, ya artis, ya tukang insinyur.

Bagaimana bisa seseorang menguasai begitu banyak bidang, seolah bertentangan dengan apa yang diyakini oleh orang-orang masa kini. Kata mereka, zaman sekarang itu kita harus memiliki spesialisasi, tidak akan bisa menguasai banyak bidang. Tidak mungkin seorang itu ahli ngoprek komputer tapi juga seorang seniman lukis. Ngoprek komputer itu lebih banyak menggunakan kemampuan otak kanan sedangkan melukis itu dengan otak kiri. Tak mungkin kedua belah otak itu berkembang kemampuannya, begitu kata mereka.

Lalu mengapa orang seperti Da Vinci, dan ilmuwan-ilmuwan zaman dulu begitu kaya akan keahlian? Menjadi seorang masterpiece untuk banyak hal. Jawabannya adalah seperti apa yang dikatakan oleh Da Vinci, “jangan lakukan apa yang kita inginkan, tapi inginkan apa yang mampu kita lakukan”. Da Vinci mengajarkan kepada kita untuk melihat kemampuan diri kita, baru menetapkan apa yang ingin kita capai. Kita harus tahu dimana keahlian kita setelah itu lakukan dan baru tetapkan tujuan sampai sejauh mana kita bisa. Dalam penerapannya, apa yang kita lakukan akan selalu fleksibel. Bahkan mungkin di tengah perjalanan, visi dan misi kita akan berubah. Mengutip apa yang dikatakan Rhenald Khasali, sejauh apapun jalan yang kita tempuh, begitu kita melihat dan menyadari bahwa arah yang kita tempuh itu salah, segera putar arah.

Keinginan, bagi manusia itu sifatnya tak terbatas. Apa pun kita inginkan. Bagi seorang programmer komputer, mungkin dia ingin belajar seluruh bahasa pemrograman. Namun ada faktor pembatas yang membuatnya tidak mampu mencapai semua keinginan itu. Waktu, biasanya menjadi kambing hitamnya. Seberapa sering kita berdalih bahwa kita tidak memiliki waktu yang cukup untuk menuntaskan pekerjaan yang dibebankan. Seberapa banyak kita lari dari pekerjaan yang satu dan memulai pekerjaan lainnya. Semua itu pada akhirnya akan berujung pada penumpukan pekerjaan.

Salah satu cara untuk menjembatani antara keinginan, beban pekerjaan dan waktu yang terbatas adalah pengelolaan waktu. Ada analogi yang bagus untuk menggambarkan hal ini, begini ceritanya…

Satu saat ada seorang profesor sedang memberi kuliah pada mahasiswanya. Di hadapannya ada gelas-gelas berukuran 1 liter. Satu buah gelas kosong, satu buah gelas berisi batu, satu berisi kerikil, satu berisi pasir dan satu berisi air.
Sang profesor memindahkan batu ke gelas kosong hingga hampir menyentuh bibir gelas. Kemudian ia bertanya kepada para mahasiswa, “Apakah gelas ini masih kosong?”. “Tidak”, jawab mahasiswa. Sang profesor kemudian mengambil kerikil dan memasukkan ke dalam gelas berisi batu, sambil menggoyang-goyangkan gelas sehingga kerikil bisa masuk ke dalam gelas. Ia kemudian bertanya lagi, “Apakah gelas ini sudah penuh?”. “Mungkin tidak”, jawab mahasiswa yang sudah mulai ragu. Profesor kemudian mengisi gelas itu dengan pasir. Ia kemudian bertanya lagi, “Apakah gelas ini masih dapat diisi?”. “Masih”, jawab mahasiswa. Kemudian profesor mengambil air dan memenuhi gelas itu. “Proses seperti ini dapat dianalogikan dengan manajemen waktu. Kita dapat melakukan banyak pekerjaan dengan waktu terbatas asal kita tahu prioritas. Batu diidentikan dengan pekerjaan yang memiliki skala prioritas yang tinggi, diikuti dengan kerikil, pasir dan air”.

(secuil pengetahuan dari The Art of What Works : How Success Really Happen by William Duggan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s