Kebersahajaan

Bagi Anda penggemar sepak bola, pasti ada tim favorit yang dijagokan. Entah itu Barcelona, Real Madrid, Inter Milan, Manchester United untuk skala internasional, atau Persib, Persija, PSMS untuk skala nasional. Atau juga pemain favorit yang Anda idolai, bisa pemain lawas macam Roberto Baggio, Roberto Donadoni, Paul Gascoigne, Marco van Basten atau pemain yang masih aktif saat ini seperti Wayne Rooney, Luca Toni, Ronaldinho atau Patricio Jimenez jika Anda penggemar Persib.

Pernahkah Anda terpikir akan pelatih favorit? Pelatih adalah kambing hitam sepak bola. Ketika sebuah klub atau tim nasional menjadi juara di sebuah event atau liga tertentu, yang dielu-elukan adalah para pemainnya, entah itu penyerang atau pemain bertahan yang mampu menjaga timnya dari kebobolan. Namun ketika tim tersebut kalah, orang pertama yang dituding sebagai biang kegagalan adalah pelatih. Berita sepak bola yang menjadi headline tentang pelatih biasanya berkaitan dengan kekalahan tim tertentu.

Belakangan ini, pelatih sepak bola mulai naik daun. Bukan karena jurus mujarab mereka yang mampu meracik sebuah tim menjadi jawara tetapi lebih karena konfrontasi atau komentar-komentar yang cenderung pedas baik itu terhadap wasit, pelatih lain atau terhadap pemain tertentu. Alex Ferguson dan Arsene Wenger, sejak sekitar 10 tahun yang lalu kerap berseteru di luar lapangan. Konfrontasi sebelum dan setelah pertandingan antara mereka kerap menjadi headline di media masa. Ditambah lagi dengan kehadiran Jose Mourinho yang melatih Chelsea sejak lebih dari dua tahun yang lalu, berita tentang pelatih sepak bola menjadi lebih sering lagi.

Dari sekian banyak pelatih yang melatih klub mapan seperti AC Milan, Barcelona, Manchester United dan lain-lain, ada beberapa pelatih yang menjadi favorit saya. Frank Rijkaard adalah salah satunya. Salah satu pemain sukses Belanda ini pernah dicibir publik ketika menangani timnas Belanda. Alasannya, belum berpengalaman menjadi pelatih. Kejeniusannya dalam meracik timnas Belanda di Piala Eropa 2000 mampu merubah hinaan menjadi pujian. Walaupun sukses mengantarkan Belanda ke semifinal dan dikalahkan Italia dalam adu penalti, Rijkaard memilih untuk berhenti sebagai pelatih timnas Belanda. Baginya, ketidakberhasilannya mengantarkan Belanda menjadi juara di kandang sendiri adalah sebuah kegagalan.

Minggu dini hari lalu (11 Maret 2007), lagi-lagi saya dibuat kagum olehnya. Partai big-match antara Barcelona dan Real Madrid ditanggapinya dengan sebuah kepuasan, walaupun timnya tidak memperoleh kemenangan. Baginya, hasil imbang 3-3 setelah selalu tertinggal dari seteru abadinya tersebut, adalah sebuah kemenangan. Bagi saya, kebersahajaan Frank Rijkaard merupakan nilai plus yang dimilikinya sebagai seorang pelatih. Kemampuan untuk menyatukan begitu banyak bintang sepak bola dalam sebuah tim tentulah sebuah keistimewaan. Tetapi, itu semua tidak membuatnya merasa istimewa dan merendahkan pelatih lain. Bahkan terhadap anak buahnya sendiri pun ia selalu bersikap obyektif. Henrik Larsson yang musim lalu memutuskan untuk pulang kampung ke Swedia pada akhir musim tetap diberinya kesempatan untuk bermain. Bahkan keputusannya ini membuahkan Piala Liga Champion.

Pak Capello, Pak Mourinho, kapan Anda mau mencontoh Frank Rijkaard?

One response to “Kebersahajaan

  1. ulasan yg bagus sbg footbaler sejatih. btw, lazio FIFA ps2 1996-1997 manado32 tetap tdk terkalahkan, hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s