Tak Apa Biaya Kuliah Mahal, Asal ….

Tanggal 2 dan 3 Juni yang lalu, lahan parkir ITB penuh dengan mobil dan motor, seperti terlihat pada dua gambar di bawah. Gerbang Selatan yang biasanya bisa dilewati, ditutup. Pasalnya saat itu, ITB sedang menggelar Ujian Saringan Masuk – ITB (USM – ITB). Mahasiswa yang masuk ITB tahun lalu via jalur ini harus membayar sebesar Rp. 45 juta rupiah. Jumlah yang luar biasa bagi sebagian besar orang tua yang bermimpi untuk menyekolahkan anaknya di bangku kuliah.

Motor saat USM-ITB

Mobil saat USM-ITB

Banyak orang yang tidak setuju dengan kebijakan ITB untuk membuka jalur khusus, dengan biaya yang amat tinggi pula. Tidak sedikit juga yang menganggap bahwa hal itu adalah lumrah, karena tahu bahwa biaya kuliah itu memang amat mahal. Ditambah lagi dengan perubahan status ITB menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN), dimana pada tahun 2010 nanti (katanya) pembiayaan bersifat mandiri. Tidak lagi mengandalkan kucuran rupiah dari pusat.

Saya termasuk sebagian kecil orang yang setuju bahwa biaya perkuliahan itu harus mahal. Diperlukan uang dalam jumlah yang banyak untuk menggaji dosen, karyawan dan membeli bahan-bahan praktikum, yang kebanyakan harus diimpor. Kalau mengandalkan subsidi dari pemerintah, maka yang terjadi adalah kerugian. Investasi yang telah dikeluarkan oleh pemerintah untuk membuat mahasiswa menjadi pintar, katakanlah ITB, belum tentu akan kembali kepada negara. Mau bukti? Banyak lulusan universtas terkenal yang sekarang ‘ngendon’ di luar negeri. Mereka ’emoh’ kembali ke kampung halaman. Banyak alasan yang mereka kemukakan, apakah it atmosfer penelitian yang kurang kondusif, kecilnya gaji yang mereka terima dan sebagainya. Dengan pembiayaan secara mandiri, tidak ada lagi keharusan moral dari mahasiswa untuk membalas budi baik, terhadap negara untuk saat ini.

Kalau saya setuju dengan biaya mahal, berarti saya menghalang-halangi rakyat untuk menjadi cerdang dong? Oh, tentu tidak. Saya setuju kuliah mahal, asal biaya pendidikan dasar mulai dari SD hingga SMA, gratis..tis..tis.. Tidak ada uang pangkal, tidak ada uang seragam, tidak ada uang buku, juga tiada uang SPP. Enam ditambah tiga ditambah tiga tahun, total dua belas tahun, biaya pendidikan harus gratis. Nol rupiah, untuk semua rakyat Indonesia. Dengan waktu selama ini, kita bisa menghemat uang dan menyimpannya hingga nanti cukup untuk membayar biaya perkuliahan yang puluhan juta rupiah itu. Bagaimana? Setuju? Kalau saya sih setuju, wong itu pendapat saya kok…

7 responses to “Tak Apa Biaya Kuliah Mahal, Asal ….

  1. Saya sangat setuju pendapat anda. Sekarang jaman susah apalagi cari uang sebanyak begitu harus kerja keras……….

    Untung ada internet.
    Coba review ini

  2. bukan dilihat mahal atau tidak, bagaimana proses kuliah dan end product dari kuliah paling utama buat orangnya bukan hanya “membeli” ijazah sajah! ituh pendapat sayah :p

  3. sorry euy comment id sebelumnya salah kasih id, maklum masih kleyengan :p

  4. Dalam agama Islam, dikatakan, tuntutlah ilmu walau sampai ke Cina sekalipun. Dulu ke Cina dari Arab pasti mahal dan…jauuh. Intinya, kita harus coba semaksimal kita, belajar yang pol siapa tau gak perlu bayar mahal buat masuk ITB. Terus buat orang tuanya kerja yang pol buat bayarin 45 jeti itu…hehehe (kan nyekolahin anak tanggung jawab ortu juga…)

  5. wah. maaf telat banget. Tapi menurut gw dengan kualitas ITB uang 45 juta itu enggak seberapa bila di bandingkan dengan universitas swasta atau BHMN lainnya. Yang bikin gw nyesek sih kenapa yang lewat jalur khusus ini harus ikutan bayar spp sama dengan jalur normal. Harusnya mereka membayar jauh lebih mahal seperti misalkan s2 atau s3. lagipula jalur khusus itu untuk orang2 “berduit” yang punya otak cukup. Jadi bisa subsidi silang buat yang lain yang lebih membutuhkan.

  6. kenapa gak kreatif kayak IPB aja bikin mall
    kn lumyan uang mengalir dr sana tanpa harus membebankan ke mahasiswa.
    Kalo keseringan kayak gini lama-lama jadi komersialisasi pendidikan.

  7. menurut gw nggak kaya gitu tuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s