Jangan pukul anakmu

Pagi tadi, selagi mencuci motor, saya mendengar tangisan anak kecil. Suara tangisannya terdengar tidak biasa. Bukan tangisan mencari perhatian, bukan tangisan kesakitan karena jatuh atau terbentur. Bagi saya, tangisannya seolah ia tersiksa. Tidak berapa lama, terdengar suara pukulan, mungkin di (maaf) pantat, dan terdengar suara yang amat sangat ketus, “Mau nurut gak?” berulang-ulang.

Saya tak habis pikir, kok anak dipukul supaya menurut. Logika berpikir anak-anak masih dalam tahap perkembangan. Mereka belum tahu apa itu reward and punishment. Yang mereka tahu adalah keinginannya mereka sendiri. Belum tahu bahwa di dalam keluarganya ada hirarki. Tidak mengerti bahwa aturan itu harus ditaati. Mereka hanya meniru. Kalau mereka menangis, itu karena apa yang diperintahkan secara paksa itu bertentangan dengan pikiran sederhananya.

Kasihanilah anakmu, Bu. Jangan pukul anakmu hanya karena hal sepele. Tidak mau menurut kok dicubit. Anak menangis
kok malah dimaki. Tidakkah engkau sadar Bu, ia adalah penerusmu. Jika engkau besarkan ia dengan makian, ketika besar anakmu menjadi pemaki pula. Bila ia dibesarkan dengan pukulan, mungkin kelak ia akan jadi ‘jeger’ (jelema gering) alias ‘ucing garong’.

Saya bersyukur ibu dari Fauzan, anak saya, amat sabar mengasuhnya. Memang kadang-kadang ia juga marah, tapi tidak berapa lama pasti akan meminta maaf. Ya, meminta maaf kepada anak kecil, umur 3 tahun. Nampak sepele, tetapi itu merupakan sebuah pelajaran hidup yang besar. Marah itu manusiawi. Meminta maaf akibat kesalahan adalah sebuah kemuliaan. Lebih mulia lagi seorang pemaaf. Juga istri saya tidak pernah memukul atau memberikan peringatan secara fisik. Dulu, saya pernah menjewer Fauzan, dampaknya seharian ia menjadi murung. Setelah itu, saya tidak pernah sekalipun menjewernya.

Anak adalah cerminan dari diri kita. Kalau ia menjadi seorang pemarah, jangan salahkan ia, apalagi orang lain. Salahkan lah kita sebagai orang tuanya. Jangan pernah berharap ia menjadi seorang pemurah dan penyayang kalau kita tidak memberinya contoh bagaimana untuk melakukan itu.

3 responses to “Jangan pukul anakmu

  1. Baheula, seblon punya anak, klo melihat atau mendengar anak dimarahin seperti ituh..sedih rasanya..sekarang punya anak bener-bener merasakan arti kesabaran…meski terkadang suka hilap, tetep ajah memohon maaf sama anak adalah wajib. Kalaupun memang harus menggunakan “kekerasan yang ringan”, kita harus menerangkan kenapa kita melakukan dan tetap ask for forgiveness. Nah untuk tindakan terakhir ini sayah lakukan kalau sudah menyerempet super bahaya buat Keiza…

  2. So suiiiiit… Bapak satu anak ini bijak beneeeer.. So siapa yang mau meneladaninya??

  3. I just want to take some money!🙂
    Press here

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s