Pelajaran Hidup

Sungguh beruntung seorang Muslim itu, jika diberi ujian ia bersabar dan jika diberi nikmat ia bersyukur. Begitulah Rasulullah mengajarkan kita sebagai umatnya. Hidup bagaikan papan catur, hanya ada dua warna yang akan kita pijak, putih atau hitam. Senang atau duka. Kedua-duanya bisa menjadi anugrah atau bisa juga menjadi ujian. Itu teorinya. Praktiknya? Ternyata sulit untuk kita lakukan.

Kebanyakan dari kita cenderung lebih mudah untuk bersabar jika diberi ujian. Apa hendak dikata, mengomel atau memaki pun tidak akan ada gunanya. Ya sudah, sabar saja. Kata-kata itulah yang sering kita dengar saat kita tertimpa musibah. Sabar adalah satu-satunya jalan, tiada pilihan lain.


Mayoritas manusia terlalu sulit untuk bersyukur. Seseorang yang sudah bekerja, merasa minder melihat temannya, seangkatan, bahkan dulu lebih bodoh darinya (mungkin), kini sudah menjadi direksi dengan gaji berlipat-lipat darinya. Seorang lainnya sudah menikah puluhan tahun, belum punya anak, merasa iri oleh rekannya yang langsung dikaruniai anak setahun setelah menikah. Ada lagi orang tua yang merasa cemburu terhadap tetangganya karena ia hanya bisa menyekolahkan anaknya sampai SMA. Masih banyak contoh lainnya.

Padahal di sekitar kita masih begitu banyak orang yang sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Masih sulit untuk makan sehari tiga kali. Boro-boro empat sehat lima sempurna. Tidak sedikit pula yang usianya paruh baya masih belum dapat jodoh. Pun cukup banyak orang tua yang tidak mampu membuat anaknya bisa baca tulis, untuk sekolah SD pun tidak ada biaya.

Ketiadaan rasa syukur tersebut membuat hidup kita menjadi terasa sempit. Kita merasa seolah-olah tidak berharga. Ujung-ujungnya adalah muncul ketidakbahagian dalam diri. Cilakanya, ketidakbahagian itu akan menular seperti virus pada orang-orang terdekat kita. Hal ini akan membuat kita seperti hidup dalam lingkaran setan ketidakbahagiaan. Rumah seolah menjadi neraka.

Hmm, coba kita merenung sesaat. Pikirkan tentang nikmat apa saja yang belum kita syukuri. Pegang dada kita, jantung masih berdetak, paru-paru masih bernafas. Coba lihat tangan kita. Terlihat? Berarti kita masih diberi nikmat mata. Buk! Aduh, punggung kita dipukul anak. Alhamdulillah, kita dikaruniai anak yang sehat, kan? Ayah! Itu piring kok gak diberesin? Suara nyaring memekakkan telinga dari sang istri. Syukurlah, kita masih punya pasangan hidup. Seseorang yang berbagi tugas dan tanggung jawab dalam kehidupan rumah tangga.

Bayangkan jika saat ini ada rekan kita, berjuang sendirian menanggung hidup dua jiwa yang masih kecil. Pergi di kala matahari belum terbit dan kembali setelah gelap. Semua dilakukannya demi masa depan mereka. Kemudian, kita berkeluh kesah kepadanya tentang hal-hal yang tidak kita miliki.Tentang keinginan dan mimpi yang tidak terpenuhi. Akan obsesi yang tidak tercapai.

Apa sikap kita jika sambil tersenyum ia menjawab bahwa segala sesuatu sudah diatur oleh-Nya, kewajiban kita hanyalah menjalaninya dengan tawakal dan bersyukur kepada-Nya. Apa yang terjadi terhadap kita adalah sebuah keputusan terbaik bagi kita dari Zat Pencipta yang Maha Adil. Sebuah ucapan dan sikap mulia dari seseorang yang tidak memiliki apa yang kita punya. Sikap dan tindakan dari muslim sejati, berbeda dengan kita yang hanya pandai berkeluh-kesah.

Sahabatku, terima kasih atas pelajaran ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s