Komitmen

Ada sebuah cerita dari Bapak sahabat karibku yang hingga kini masih saya ingat dan resapi betul. Katanya (dalam Bahasa Sunda), “Ari keur bobogohan mah, si Neng labuh teh langsung we diusapan sampean na. Aduh Neng kunaon? Kade atuh.. Nyeri teu? Ku AA diubaran yeuh. Eh, ari tos nikah mah, si Neng labuh teh langsung we dicarek. Cik atuh euy leumpang teh titingalian. Hudang ah buru geus telat yeuh” (Kalau masih pacaran begitu sayang pada pasangan, begitu menikah kadar sayangnya berubah drastis).

Nasehat yang diberikannya begitu bermakna. Seringkali kita melihat begitu banyak kekasih yang asyik betul, seolah-olah dunia ini milik mereka berdua. Pasangannya sakit sedikit saja responsnya begitu penuh perhatian. Heboh lah. Setelah menikah, keindahan dan kemesraan yang dulu ada semakin lama semakin berkurang. Akhirnya hilang sama sekali dan berakhir dengan perceraian. Alasannya sederhana, sudah tidak cinta lagi. Begitu kata mereka. Alih-alih berusaha meningkatkan kadar cinta dan mempertahankan perkawinan mereka malah mencari pasangan baru

Apa yang saya resapi dari wejangan beliau adalah bahwa sebenarnya pernikahan itu bukan semata-mata dilandasi rasa cinta atau sayang. Setelah menikah, kadarnya pasti akan menurun karena yang dilihat bukan hanya kebaikannya saja tetapi juga keburukannya. Saat masih menjadi pacar, semua kelemahan dan keburukan tidak pernah terlihat. Siapa sih yang mau terlihat sebagai seorang pemarah, pemalas, pencemburu saat masih pacaran? Begitu kira-kira. Setelah menikah, landasan asasi yang menjadi dasar dari hubungan antar sepasang manusia bukan lagi rasa sayang, suka atau cinta

Landasan asasi yang terbaik dalam pernikahan adalah agama. Ia akan membawa kita pada keyakinan bahwa segala sesuatu dalam hidup sudah ditakdirkan. Pasangan, anak, harta, hidup dan mati sudah digariskan. Rasa sayang itu pasti akan naik dan turun tergantung pada bagaimana kita mengelolanya. Selama kita tidak bersyukur tentang apa yang ada dalam diri pasangan kita maka selama itu pula rasa sayang itu tidak akan bertambah. Apalagi jika ternyata sang suami atau istri memiliki kebiasaan yang amat bertolak belakang dengan kita. Landasan agama membuat kita akan yakin bahwa mempertahankan pernikahan adalah hal terbaik karena ia adalah sesuatu yang dicintai oleh Allah. Kalau kita sudah dicintai Allah, hal apa yang bisa mencegahnya?

One response to “Komitmen

  1. Betul!..bersyukur atas apa yang sudah diberikan…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s