Early literacy

Syarat untuk masuk SD jaman sekarang itu adalah mampu membaca, menulis dan berhitung. Saya pikir ini tidak adil. Masuk ke SD kan supaya bisa membaca, menulis dan berhitung. Itu logika sederhana saya.

Karena itu banyak orang tua yang menyekolahkan anaknya terlalu dini. Umur tiga atau empat tahun sudah masuk taman bermain. Di usia lima tahun, anak-anak dipaksa naik kelas ke taman kanak-kanak supaya saat mereka enam tahun bisa masuk SD. Cilakanya, di taman bermain pun mereka tidak ditekankan untuk bermain, melakukan eksplorasi alam sekitarnya tetapi diarahkan pada kemampuan baca, tulis dan berhitung (calistung) itu tadi.
Ada ketakutan tersendiri bagi orang tua jika anaknya tidak mampu calistung sebelum usia SD. Mereka takut anaknya akan terlambat masuk SD. Usaha-usaha yang nampak tidak adil bagi anak-anak pun diterapkan. Di rumah ditempel angka dan huruf-huruf. Setiap hari anak-anak diajarkan bagaimana mengenalkan angka dan huruf tersebut. Jika masih belum bisa juga, guru privat didatangkan.

Anak kami, Fauzan, sekarang usia 3 tahun 9 bulan. Sejak usia dua tahun ia sudah kenal huruf dan angka. Di usia tiga tahun sudah mengenal konsep berhitung, ia tahu bahwa dua puluh itu lebih banyak dari sepuluh. Jadi kalau ia meminta kami bermain sepakbola misalnya, ia akan meminta kami menendang bola sebanyak-banyaknya. Ia tak akan mau jika kami hanya menendang bola lima kali saja, ia akan bilang lima puluh. Tapi jika kami memintanya untuk makan, ia akan bilang tiga suap saja ya. Ia kenal konsep berhitung. Kalau menguntungkan baginya, ia akan meminta angka maksimal, jika dianggap membosankan maka ia akan meminta sesedikit mungkin. Jadilah tawar-menawar di antara kami dan Fauzan.

Mengapa Fauzan bisa mengenal huruf dan angka di usia dini? Bisakah cara ini diterapkan untuk anak-anak lainnya? Jawab kami adalah bisa. Caranya adalah dengan selalu berpegang pada prinsip bahwa dunia anak-anak adalah bermain. Yang identik dengan permainan adalah rasa senang. Jika unsur kesenangan itu tidak ada, maka mereka tidak akan menikmati permainan itu.

Faktor lainnya adalah sebagai orang tua kita tidak boleh memberikan target apapun. Juga tidak ada istilah benar dan salah. Seringkali anak kecil ketika diberi tahu angka secara berurutan mulai dari satu hingga sepuluh, ia akan mengulangi dengan urutan seenaknya. Sebagai orang tua kami hanya mengikutinya saja, seringkali kami tersenyum atau tertawa melihatnya. Kami tidak mengatakan apa yang diulanginya itu salah. Dengan demikian anak akan tetap menikmati permainan berhitung itu, dengan pola mereka sendiri. Lama-kelamaan mereka akan tahu pola berhitung yang benar.

Yang penting juga adalah suasana. Kalau kita menerapkan suasana khusus untuk belajar, anak-anak bosan. Yang perlu dilakukan adalah menciptakan segala suasana adalah suasana bermain. Kita cukup menyelipkan pembelajaran di sana. Misalnya, sambil menendang bola kita berhitung satu, dua, tiga dan seterusnya. Atau sambil lompat-lompat naik turun kursi. Untuk membaca, misalnya kita bawakan gambar ikan, bercerita tentang ikan dan kita menyusun atau menuliskan huruf pembentuk kata ikan. Semua ini tentunya kita lakukan dengan gaya bicara yang mengasyikkan, penuh ekspresi, bukan gaya guru jaman dulu.

Kenal huruf dan angka di usia dini (early literacy) bukanlah hal yang sulit dicapai dan juga bukanlah sebuah keharusan. Sebaiknya kita, sekali lagi, berprinsip bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Jika mereka belum bisa mengenal angka dan huruf di usia dini, janganlah mencap ia sebagai anak bodoh, anak malas dan sebagainya. Kalau mereka dianggap bodoh, kita sebagai orang tuanya dianggap apa dong? Pintar? Nampaknya nggak deh.

3 responses to “Early literacy

  1. Keiza mah asyik main sama number & alphabet game board….makanya udah bisa spell Y…O..Y..O = YOYO😀

  2. Y…O…K…Y…O…K = AYAH …😀

  3. iya nih.. saya juga bete ketika anak saya masuk SD, masa di test baca tulis..

    pendidikan yang kebablasan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s