Anugrah

Pertanyaan basa-basi yang sering saya terima adalah, “Sudah menikah?”, “Sudah punya anak?”. Untuk jawaban pertama tidak sulit menjawabnya dan pasti benar. Pertanyaan kedua memang mudah dijawabnya, “Baru satu”, hanya saja jawaban itu salah. Loh kok salah? Ya, seharusnya saya menjawab, “Sudah satu” atau lebih bagus lagi, “Alhamdulillah, sudah satu”.

Jawaban “baru satu” itu saya sadari ternyata menunjukkan bahwa saya belum bersyukur sudah diberi anak oleh Allah. Padahal, anak itu adalah sebuah anugrah, sebuah keajaiban yang tidak pernah kita sadari. Hidup dan mati sudah sedemikian biasa dalam kehidupan. Kehidupan dan kematian tidak pernah mengingatkan kita akan keberadaan Zat yang Maha Hidup dan Tidak Pernah Mati.

Sudah punya anak, satu, merupakan TIGA keajaiban sekaligus, anugrah dari Allah. Ini saya sadari setelah saya dan istri berniat untuk memiliki anak kedua. Sudah satu tahun berusaha, ternyata belum juga ada tanda-tanda yang menunjukkan ke arah sana. Dulu kok mudah ya, baru menikah kemudian istri langsung hamil. Proses kehamilan bukan sebatas proses pertemuan sel sperma dan sel telur. Tidak hanya berupa perkembangan sel seperti proses mitosis yang kita pelajari di ilmu biologi. Tapi juga mencakup ditiupkannya ruh ke dalam calon sang jabang bayi. Ini adalah keajaiban pertama

Keajaiban kedua adalah kehidupan janin di dalam rahim ibunya selama 9 bulan lebih hingga datangnya keajaiban yang ketiga, keluarnya sang jabang bayi ke dunia. Dibutuhkan mekanisme yang rumit dan terancang dengan baik agar sang jabang bayi dapat menghirup oksigen. Banyak kasus dimana sang jabang bayi terbelit tali pusar sehingga untuk mengeluarkannya harus melalui operasi. Ada juga yang sudah terlanjur terbelit dan tidak diketahui hingga meninggal.

Tiga keajaiban ini seolah tidak pernah saya syukuri. Selama ini saya mengangap bahwa kelahiran seorang anak adalah sebuah proses alamiah, yang biasa. Padahal bukan seperti itu.

One response to “Anugrah

  1. Bener, pak. “Alhamdulillah, sudah satu” itu jawaban yang bijak. Kalo seandainya saya ditanya ky gtu, saya juga akan jawab:”Alhamdulillah, sudah dua” (maaf, bukan ngebanding-bandingkan pak ya). Tapi perjuangan untuk mendapatkan yang 2 itu..hampir 10 tahun. Bayangin, tahun 1995 menikah, tahun 2004 baru dapet,trus nambah 1 tahun berikutnya.Tapi…kata dokter “STOP dulu!!!” (soalnya dua2nya pake operasi caesar!!). Substansinya…mensyukuri nikmat. Gtu kali pak ya!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s