Hard to be patient

“I am a dreamer”, begitu kata John Lennon. Ungkapan ini adalah juga gambaran dari kepribadian saya. Bukan bermaksud untuk narsis, tetapi memang begitulah adanya. Setiap hari, saat berangkat dari rumah ke tempat ngantor di Dago, saya selalu bermimpi. Saya tidak pernah berhenti berharap bahwa perjalanan saat itu menjadi perjalanan yang asyik untuk dinikmati. Menjadi perjalanan yang tak terlupakan.

Asyik saja saat disalip dengan tidak senonoh oleh kendaraan lain. Apakah itu disalip dari kiri sambil menekan klakson tanpa henti atau dari kanan sambil menyerempet-nyerempet. Menikmati saat diklakson oleh kendaraan lain di perempatan, walaupun lampu lalulintas belum juga hijau. Tertawa saja saat dipaksa untuk menjalankan motor padahal di depan ada seorang tua yang hendak menyebrang jalan.

Perasaan bahagia itu hanya ada jika saya sabar menghadapinya. Hanya mungkin terjadi kalau saya menganggap bahwa orang lain hanya buru-buru saja. Hanya bisa terjadi kalau saya tidak menganggap orang lain salah karena memencet klakson sembarangan, menyalip dari kiri dan pelanggaran aturan lainnya. Sekali lagi, semua itu mungkin kalau saya sabar. But, it is hard to be patient. Now what? Try it again and again.

One response to “Hard to be patient

  1. Its better became a patient person, rather become “short fuse” person….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s