She is creating a genius

Kali ini saya coba berbagi pengalaman tentang mendidik anak. Kami beruntung memiliki akses untuk belajar tentang bagaimana mendidik anak. Saya bisa mendapatkan dengan mudah informasi soal anak lewat internet sedangkan istri lebih banyak mendapatkan informasi dari salah satu tabloid keluarga. Banyak hal yang didapatkan dari informasi yang kami peroleh, namun yang paling penting adalah sikap terbuka dari orang tua terhadap informasi yang ada. Tidak semata bergantung pada apa yang dikatakan orang tua kami tentang pengalamannya dahulu. Juga yang paling penting adalah kami belajar tentang bagaimana orang tua kami dahulu mendidik kami. Kami pilah berdasarkan pengetahuan yang kami miliki, mana yang cocok dan mana yang tidak cocok untuk diterapkan pada anak kami.

Banyak orang tua sekarang yang berharap anaknya menjadi pintar. Mereka menyekolahkan anaknya lebih dini, misalnya memasukkan anaknya ke taman bermain di usia tiga atau empat tahun. Mereka berharap anaknya dapat membaca dan berhitung sebelum masuk sekolah dasar. Mereka takut anaknya sulit untuk masuk SD karena saat ini banyak SD yang mensyaratkan calon siswanya sudah bisa baca tulis. Apa akibat dari kekhawatiran orang tua ini? Anak dipaksa untuk belajar. Dipaksa untuk bisa membaca dan menulis.

Tidak ada yang salah dengan harapan orang tua agar anaknya bisa membaca dan menulis di usia dini. Yang kurang tepat adalah pengejawantahan dari harapan tadi. Banyak orang tua yang menyerahkan proses belajar ini kepada pihak ketiga, apakah itu sekolah atau guru privat. Padahal sebenarnya proses belajar yang terbaik dapat diberikan oleh ibunya sendiri. Anak hanya tahu bahwa ibu adalah teman bermainnya. Dengan menyisipkan proses pembelajaran dalam permainan, anak tidak akan menyadari bahwa ia telah belajar.

Inilah yang diterapkan oleh istri saya. Memang seringkali ia mengeluh kalau energi anak kami tidak ada habisnya. Pagi-pagi sudah jalan-jalan beli bubur untuk sarapan. Setelah makan, nonton Hole in the Wall sambil loncat-loncat, kemudian mengajak main bola dan seterusnya. Untuk menyiasati agar ia bisa beristirahat, istri saya menulis huruf dan angka di kertas dan mengejanya. Tentu dengan sikap dan intonasi yang menyenangkan bagi anak. Bukan dengan nuansa belajar di kelas.

Pada proses ini, anak seringkali mengikuti dengan semaunya. Misalnya, saat mengulangi proses berhitung ia akan meloncati angka tertentu seperti 1, 2, 3, 6, 7, 8, 9, 10. Kami tidak pernah membetulkannya, cuma tertawa saja. Proses koreksi akan mengurangi keasyikan anak yang bisa berdampak ia akan kapok untuk belajar. Begitu juga dengan proses belajar menulis. Baginya mencorat-coret tembok lebih menghebohkan dibandingkan dengan menulis di kertas. Memang tembok jadi kotor tapi itu bagus buat proses belajarnya.

Kami juga menggunakan permainan komputer GCompris yang ada di Debian GNU/Linux sebagai sarana belajar. Dengan permainan ini, selain anak belajar, kami juga bisa rehat sebentar dan melakukan pekerjaan yang lain. Terlepas dari pro dan kontra permainan komputer, bagi kami banyak hal positif yang didapatkan. Selain belajar tentang huruf, angka, warna, bentuk dan yang lainnya, ia juga berlatih motorik halus saat menggunakan mouse.

Pertengahan bulan Mei ini anak kami akan berusia empat tahun. Ia sudah bisa membaca dan berhitung, juga konsep matematika tentang lebih besar dan lebih kecil. Kadang-kadang ia juga dapat melakukan penjumlahan sederhana. Ia tidak mencapainya dengan mudah. Butuh waktu dua tahun untuk dapat membaca setelah kenal huruf. Kami bangga dengan apa yang kami lakukan tetapi kami tidak pernah berharap banyak ia menjadi jenius. Kami tahu jika kami memperlakukannya dengan tepat, potensi akademisnya akan menonjol. Hanya saja, bukan itu tujuan kami. Kami ingin ia bisa menggunakan potensinya dengan tepat dan berguna bagi dirinya. Kami tidak ingin ia tertekan dengan harapan-harapan orang tuanya. Sama seperti orang tua kami yang tidak pernah berharap muluk. Mereka hanya ingin kami mandiri.

Jadi proses belajar pada anak itu akan lebih baik jika dilakukan oleh ibunya sendiri. Setiap ibu bisa menciptakan anak jenius karena pada hakikatnya setiap anak memiliki kemampuan menyerap informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang dewasa. Ia akan meniru dan menyimpan informasi yang diberikan padanya. Semakin banyak pembelajaran yang diberikan padanya ia akan semakin pintar. Hanya saja, intensitas pembelajaran ini berbanding lurus dengan waktu. Jika kita ingin anak kita pintar, berarti intensitas pembelajaran harus lebih banyak. Artinya waktu bermain harus lebih lama dan ini hanya bisa dilakukan oleh ibu yang tidak bekerja.

One response to “She is creating a genius

  1. heeuh betul, meski maski sedikit berbahasa “klingon” sekarang keiza udah bisa membaca, spelling dan berhitung. Taktik untuk stop energinya? cukup di bacakan cerita dalam buku favoritenya yang baru berjumlah 20, atau dia sendiri yang menceritakan..sambil menebak-nebak “apa yang dia ceritakan?” karena yang jelas hanya bagian ujung2nya sajah…..😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s