Positivity

Positivity. Sebuah kata dalam Bahasa Inggris yang belum ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia. Tidak seperti kreativitas, kita tidak akan menemukan kata positivitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Padahal positivity ini seyogyanya menjadi sikap hidup kita sehari-hari. Mengapa ?

Positivity. Istilah inilah yang begitu membekas dalam benak setelah aku membaca tiga buku dari tetralogi Andre Hirata. Aku ingat ketika Arai kecil, simpai keramatitu, dijemput oleh Ikal dan ayahnya. Terenyuh dengan penderitaan seorang anak sebatang kara itu, Ikal dan ayahnya tak mampu untuk berkata sepatah katapun. Sorot mata duka keduanya yang terbaca oleh Arai dibalas dengan permainan tradisional yang ia buat sendiri. Bukan Ikal yang menghapus laranya, sebaliknya Arailah yang membuat Ikal kagum akan permainan hingga tergelak dibuatnya.

Positivity. Karakter inilah yang sempat hilang dari Ikal ketika ia tengah berada di semester ganjil tahun ketiga SMA Bukan Main. Negativity, mungkin. Ikal tidak yakin akan mampu menuntut ilmu sampai ke Sorbonne, mengembara ke pelosok dunia untuk menemukan mosaik kehidupannya. Negativity, membuatnya enggan bertarung dalam pelajaran hingga garda depan tidak menjadi miliknya saat itu.

Banyak kisah hidup yang diungkapkan oleh Andrea Hirata, tercakup dalam satu kata, positivity. Sebuah kata sederhana tetapi mengandung makna yang luar biasa. Jika kita memiliki kata ini dalam hidup, tak akan pernah kita mengeluh sekali pun dalam hidup. (Sekali-sekali boleh lah, sebagai selingan). Tak akan pernah ada umpatan kekesalan dalam perjalanan. Mustahil pula mengutuki diri sendiri karena setelah hidup puluhan tahun, ya masih seperti ini-ini saja. Belum itu.

Kata inilah yang tadi kusampaikan pada salah satu mahasiswa dalam Ujian Hasil Penelitian. Ia nampak kecewa karena tidak mampu meyakinkan para penguji. Padahal satu tahun lebih ia berjuang untuk belajar sesuatu yang baru. Raut wajahnya seolah-olah berbicara bahwa para penguji benar-benar mengobrak-abrik penelitiannya. Tak ada harganya. Ibaratnya, dari sepuluh hal yang telah ia lakukan, hal ke delapan hingga sepuluh lah yang ia tidak menguasai. Tapi kenapa penguji bertanya tentang itu? Bukan yang nomor satu hingga ketujuh?

Positivity akan membuat kita percaya bahwa pada bagian yang dikritik itulah kesalahan kita. Pada segmen itulah perbaikan harus dilakukan. Tahapan lainnya? No problemo. Dengan positivity maka saran, kritikan, bahkan makian bisa kita anggap bentuk perhatian orang lain terhadap kita. Bukankah semakin tinggi maka akan semakin besar angin bertiup, betul tidak? (dengan gaya dan intonasi suara meniru AA Gym).

2 responses to “Positivity

  1. hhmm..
    kudu belajar nih..
    hhmmm..

  2. sama-sama Bung. Tulisan ini masih teori … šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s