Belajar empati sejak usia dini

Jangan salahkan jika kelak mereka menjadi orang yang tidak tahu sopan-santun. Menjadi orang yang tidak tahu diri, tidak tahu bagaimana mengikuti aturan. Lihatlah ke dalam diri kita sebagai orang tua, apa yang telah kita ajarkan kepada mereka. Sebagai orang tua, terlalu sering kita ‘sok tahu’. Loh kok bisa?

Terlalu sering kita melarang anak kita menangis karena jatuh. “Sudahlah jangan nangis, jatuh sedikit aja kok nangis?”. “Ayo makan sendiri, kamu kan sudah besar, sudah lima tahun!”, tanpa sadar kita setengah berteriak padanya dengan mata mencelat hampir keluar. Terlalu sering kita tidak menggendongnya kala ia menangis mencari perlindungan. Kita menganggap bahwa perlakuan seperti itu hanya akan membuatnya menjadi anak manja.

Keliru. Semua anggapan atau asumsi di atas adalah salah besar. Anak, seperti kita sebagai orang tua adalah manusia juga. Mereka punya ego. Punya hak untuk dianggap sebagai manusia juga. Mereka ingin didengar, sama persis dengan orang tuanya. Yang selalu menekan klakson sedalam-dalamnya ketika hendak menyusul kendaraan di depan, karena merasa lebih berhak. Yang jarang sekali menggunakan kaki kanan untuk menginjak pedal rem dalam-dalam saat ada orang tua hendak melintas di zebra cross.

Apa yang kita lakukan adalah contoh mujarab bagi anak. Ucapan terima kasih yang kita sampaikan kepadanya saat ia telah selesai mandi, makan atau membereskan mainannya, akan membekas dalam kalbunya. Ia akan belajar menjadi orang yang menghargai orang lain. Hiburan yang diberikan kepadanya saat ia menangis, “Aduh nak, sakit kakinya? Kalau sakit, tidak apa-apa menangis. Tapi menangisnya tidak usah lama-lama ya? Kasihan nanti Adik terbangun dari tidurnya”. Ucapan ini akan membuatnya merasa diakui keberadaannya. Ia akan belajar mengapresiasi orang lain. Apapun yang mereka lakukan.

Mulai hari ini, cobalah kita belajar menjadi orang tua yang tidak hanya asal perintah saja. Tidak asal bentak saja. Tidak ada salahnya kita memberikan penjelasan yang logis kepada anak kita. Mereka pasti mengerti. Apalagi dengan intonasi suara yang lembut, yang tidak membuatnya merasa direndahkan. Tidak ada salahnya kita memanusiakan anak, seperti yang ada di film-film Hollywood, ketika seorang ayah berbicara pada anaknya, “Okay, we are talking as men”. Setuju?

2 responses to “Belajar empati sejak usia dini

  1. setuju bro..

    *wah pelajaran berharga nih..*

    thanks bro..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s