Ayo, acungkan jari kelingking

Banyak cara yang dilakukan orang untuk menunjukkan rasa ketidaksukaan terhadap orang lain. Bisa dengan mengumpat, memaki, melotot, bahkan mengacungkan jari tengah bila benar-benar sudah tidak sabar. Bukannya saya setuju dengan perilaku orang yang mengacungkan jari tengah tersebut, mungkin bisa dimaklumi juga alasannya. Lho kok bisa?

Ya, karena jika ingin hidup di Indonesia apalagi di Jakarta, kita harus punya sikap sabar berlapis-lapis. Berapa lapis? Ratusan. Tidak ada itu sikap santun, tenggang rasa di jalan raya. Coba saja lihat setiap pagi. Adalah hal yang biasa jika trotoar diaku oleh pengendara sepeda motor sebagai miliknya. Bukannya merasa malu dengan tindakannya, bahkan mereka dengan percaya diri mengusir pejalan kaki yang merintangi jalannya.

Contoh lain? Sudah terlalu banyak saya tulis di blog ini. Masalahnya sekarang adalah bagaimana sikap kita. Bersabar? Sudah. Sikap ini hanya bermanfaat bagi diri kita saja. Terhadap mereka yang melakukan? Tidak ada. Bahkan bisa menjadi pembenaran atas tindakan yang dilakukan jika kita hanya diam saja.

Acungan jari tengah mungkin bisa jadi pelampiasan kita. Tidak masalah jika yang kita tuju tidak peduli. Jika sebaliknya marah? Bisa cilaka kita. Bisa digebuki atau diacungi senjata api mungkin. Seperti kasus di Jakarta beberapa waktu lalu. Lalu bagaimana? Acungkan jempol? Seperti yang dilakukan oleh kelompok rock The Darkness. Wah bahaya. Maksud kita adalah mengkritik tindakan tanpa bermaksud menyakiti, bisa-bisa dijadikan tanda persetujuan.

Kalau begitu, acungkan jari kelingking saja. Kelingking kan jari yang paling kecil. Dengan mengacungkan jari kelingking, kita menyampaikan kepada mereka yang telah melanggar aturan bahwa mereka itu orang yang bersikap kerdil. Tidak ada sedikitpun kebesaran hati mereka untuk tetap antri di jalan, untuk tetap menghormati sesama pengguna jalan. Dengan jari kelingking kita seolah-olah mengatakan kepada mereka, “Hey, orang-orang seperti kamu itu sudah gak pantas lagi hidup di Indonesia!”. “Mobil bagus tapi kok ya perilaku kayak gak pernah sekolah. Klakson sembarangan!”.

Bagaimana? Ayo, kita acungkan jari kelingking untuk memberi tahu mereka yang melanggar norma, tidak menghargai aturan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s