Militansi Open Source

Militansi menurut KBBI Daring, adalah n ketangguhan dalam berjuang (menghadapi, kesulitan, berperang, dsb). Militansi Open Source yang saya maksud di sini berarti ketangguhan, kegigihan dari seseorang atau lembaga dalam menggunakan perangkat lunak Open Source (OSS). Dalam bahasa sederhana, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk menggunakan perangkat lunak yang legal, gratis bukan perangkat lunak bajakan. Sikap militan inilah yang menjadi kendala utama mengapa pergerakan Open Source jalan di tempat. Tidak percaya ?

Indonesia sudah mendeklarasikan sebuah program IGOS (Indonesia Go Open Source) sejak 30 Juni 2004 di Jakarta. Beragam acara sudah diadakan dalam rangka peluncuran program-program terkait IGOS, baik oleh pemerintah daerah, departemen atau instansi lainnya. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk hanya sekedar beralih kebiasaan. Waktu sebegitu lama ini amat cukup untuk membiasakan diri dengan istilah dan ikon yang berbeda dari sistem operasi ‘jendela’. Cukup juga untuk mempelajari perangkat lunak yang memiliki fungsionalitas yang sama (perangkat lunak padanan). Jika Anda biasa menggunakan Microsoft Word ilegal untuk mengetik laporan pekerjaan, kini Anda bisa menggunakan OpenOffice.

Masalah padanan perangkat lunak inilah yang awalnya dianggap sebagai salah satu hambatan utama dalam penerapan perangkat lunak Open Source di Indonesia. Oleh karena itu, LIPI dan kawan-kawan, telah bekerja keras menghasilkan sebuah distribusi GNU/Linux bernama IGOS Nusantara. Distribusi ini diturunkan dari Fedora Core dan telah menggunakan istilah-istilah dalam Bahasa Indonesia di dalamnya. Dampaknya? Sangat sedikit.

Contoh lain, yang ada di depan mata saya adalah penjualan perangkat lunak bajakan di sepanjang Jalan Ganesha, Bandung. ITB yang dikenal sebagai institut teknologi terbaik di negeri ini saja tidak mampu mengubah kebiasaan mahasiswanya untuk beralih menggunakan perangkat lunak Open Source. Memang, mereka masih diberikan pilihan untuk menggunakan perangkat lunak lain karena ITB memiliki lisensi khusus dari Microsoft. Tetap saja, menurut pandangan saya, mahasiswa ITB harus menjadi contoh bagi masyarakat dalam penerapan perangkat lunak Open Source. Pintar sudah, rajin juga, kurang apalagi?

Jawabannya hanya satu, tidak ada militansi. Seseorang yang dianggap militan akan tetap berada di jalan yang dianggapnya benar. Apapun rintangan, godaan, cacian yang dihadapinya. Seorang militan juga tidak hanya menjalankan apa yang diyakininya, tetapi juga giat mengajak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dengan adanya militansi, saya yakin perkembangan penggunaan perangkat lunak Open Source akan semakin meningkat. Seminar, workshop dan sebagainya yang telah banyak dilakukan saat ini harus juga diimbangi dengan perjuangan tidak kenal lelah dari para penggunanya sekarang.

3 responses to “Militansi Open Source

  1. hidup militan, aku setuju banget deng OSS/IGOS, tapi apa daya software yang OSS/IGOS masih terbatas mungkin..ya akhirnya yang versi license 10rb/cd alias bajakan..bukan hanya mahasiswa ko pengguna saoftware bajakan, aku rasa di semua lini, dosen,mahasiswa,masyarakat,pedagang.. ini masukan aja, mungkin open yang sudah ada saat ini (terutama untuk software dengan pengguna level mahasiswa) sebaiknya menu-menu nya tetep bahasa inggris agar tidak rancu..mungkin untuk history bahwa itu ada buatan asli anak bangsa ya tinggal dipasang di about nya misalnya “made in indonesai”.. tapi apapun yang terjadi..Maju terus IGOS…. hidup militan

  2. betul pisan.. hanya saja mahasiswa sebagai calon orang terpelajar, hendaknya membiasakan diri dengan yang legal (baca: open source). kalau yang sudah berumur, sulit juga merubah kebiasaan. untuk beralih menggunakan excel dari lotus saja mungkin sulit..😀

  3. satuju kang…
    saya pribadi jg pengennya bangsa ini pake OSS semua…namun masih banyak yg blom tau ataupun bahkan blom liat mahluk OSS tsb… nahh tugas siapa tuh biar gerakan pengenalan — dan harus serempak, klo gak ya gampang menguap lg– (sampai instalasi langsung aja klo bisa) OSS di masyarakat luas ini dilakukan. Pemerintah kah? atw kito? memang butuh biaya besar, tapi returnnya kan bisa menghemat gede2an jg tuh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s