Rasanya masih sama

Lebaran kemarin, masih seperti yang dulu, tidak berubah dari tahun ke tahun. Biasanya, kami berkumpul di rumah nenek di Ciluar, Bogor. Anak-anak, keponakan, cucu dan cicitnya tumplek di rumahnya yang sederhana. Biasanya, aku malas berlama-lama di sana saat lebaran. Tapi kali ini, ingin rasanya ngobrol ngalor-ngidul, bersenda gurau dengan mereka. Lebaran kali ini, juga ada yang berbeda. Ada yang tidak hadir saat itu. Mereka telah dipanggil oleh Allah SWT. Ingin rasanya mengulang masa-masa indah seperti dahulu. Yang membuat sebuah rasa yang masih sama hingga kini. Apa itu? Wajit buat nenek. Lho?

Lebaran kemarin, aku masih bisa merasakan wajit buatan nenek dengan rasa yang sama. Seperti sekitar 25 tahun yang lalu. Wajit ini bukanlah wajit biasa bagiku. Ia adalah sebuah bagian dari begitu banyak pelajaran berharga yang telah diajarkan oleh nenek kepadaku. Oya, nenekku adalah seorang janda pensiunan ABRI. Aku tidak ingat lagi seperti apa rupa kakek. Yang kuingat adalah aku menyebutnya Mbah Kacamata. Mungkin beliau saat itu menggunakan kacamata. Yang pasti, dari nenek yang kami sebut Mbah Bandung, inilah aku belajar banyak. Aku belajar mengaji. Belajar bekerja. Belajar bersilaturahim. Juga belajar membuat wajit!.

wajit

Wajit ini pulalah yang melambungkan pikiranku ke lebih dari 25 tahun yang lalu. Saat dimana aku menghabiskan liburan Ramadhanku di Desa Sadu, Soreang, Bandung kampung nenekku dahulu. Sebuah masa dimana aku menjadi saksi dari dahsyatnya letusan Gunung Galunggung. Aku masih ingat saat itu, desa nenekku kontan gulap gulita karena abu Galunggung. Kami, cucu-cucunya, begitu heboh saat itu. Gelap gulita dan hujan abu tidak membuat kami takut, karena memang kami tidak tahu fenomena apa yang terjadi.

Dengan memakan wajit nenek itulah, aku kembali mengingat saat dimana nenek begitu keras mengajarkan kami tentang puasa, tentang mengaji dan tentang shalat. Ramadhan bagi kami adalah sebuah liburan yang menyenangkan juga menyebalkan. Menyenangkan karena kami bisa bermain dengan teman sebaya di sana. Bermain kelereng, dampuh, galah asin, dor-doran dan berenang di kali. Sudah pasti aku hanya berenang di tepian saja dan mengagumi mereka yang berenang dengan gaya anjing. Menyebalkan karena kami harus berpuasa dari pagi hingga petang. Karena setelah maghrib kami harus mengaji. Juga karena saat Isya kami harus bergegas ke masjid untuk tarawih. Bah, 23 rakaat pula. Begitu kerasnya nenek, walaupun satu saat aku pernah menangis keras, selama satu jam tanpa henti, rekor ya? Apa kata sang nenek, “Iman, jangan buka sekarang. Sekarang sudah jam lima, sebentar lagi juga buka”. Walhal, aku sukses berpuasa saat itu dengan ‘sad ending’😀.

Rasa yang sama dari wajit ini pula lah yang membuat terkenang mereka yang sudah pergi. Itong, sobatku di sana, sudah belasan tahun pergi. Katanya ia tersengat listrik. Rohman, anak tertua dari kakak ibuku, tiga tahun yang lalu meninggal karena sakit. Katanya sih karena malpraktik. Nampaknya dokter salah menganalisis tumor yang dideritanya. Ia adalah saudaraku yang paling sering menghabiskan waktu Ramadhan bersamaku. Juga Om Nasir, anak bungsu dari nenek. Usianya yang hanya terpaut empat dan lima tahun dari kami, membuat kami bertiga begitu kompak. Aku dahulu, saat mengaji dengan Om Nasir, selalu membayangkan menjadi duet qari Muammar dan rekan (lupa lagi siapa satunya lagi). Bagi kami, aku dan Rohman, Om Nasir adalah contoh seorang anak yang berbakti pada orang tua. Setelah Subuh pasti beliau sudah menimba air dari sumur yang dalamnya mungkin 20 meter. Setelah itu membersihkan rumah, baru berangkat sekolah.

Ah, begitu banyak pelajaran yang telah diberikan oleh nenekku saat Ramadhan. Kalau tidak, mungkin aku tidak seperti sekarang ini. Bisa mengaji, puasa dan shalat. Tiga pilar rukun Islam yang minimal. Kok minimal? Ya, kalau zakat kan kalau kita punya uang. Shahadat, sudah pasti lah. Haji? Juga dilaksanakan kalau kita mampu secara materil. Bukan begitu? Bagaimana dengan Anda? Apa kenangan terbaik yang masih Anda ingat dari nenek?

5 responses to “Rasanya masih sama

  1. hhhmm..
    nenek..
    karena hidup terpisah dari nenek jadi rada2 asing.. hhhmm..
    tapi kedua orang tua dari ibuku masih ada hingga sekarang semoga bisa bertemu secepatnya..

    aaamiiinn

  2. nenek selalu mampu meninggalkan kesan mendalam pada cucunya…

    met lebaran mas, maaf lahir bathin.

    lain kali kalo ke Ciluar mampir yah, rumahku gak jauh dari Ciluar…

  3. wah mas hartanto, kelupaan euy, pas lebaran kemarin gak tanya2 alamat😀

  4. alm nenek, slalu belain aku klo go di marahin bunda, hehe…

  5. nenek? hmm.. orang terdekat setelah emakku😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s