Menjadi mulia

Kata orang, banyak jalan menuju Roma. Kata orang alim juga, banyak jalan menjadi mulia. Bisa dengan cara berinfak di jalan, mengajarkan ilmu dan sebagainya. Sebagian teman juga ada yang berprinsip, ‘hidup mulia atau mati syahid’. Wah, nampaknya seperti mimpi ya. Kita sebagai orang awam nampaknya sulit menjadi orang mulia, dari sudut pandang agama tentunya ya. Tapi, kata Pak Khotib tadi, sebenarnya kita bisa menjadi mulia dengan tiga cara saja. Apa itu? Lanjut mang …

Pertama, memberi kepada orang yang tidak pernah memberi. Waduh, cara pertama saja sudah sulit sekali. Mana sudi kita memberi kepada orang yang pelitnya setengah idup? Gak mungkin lah. Kecuali memberi pukulan kali ya😛 . Kedua, menyambungkan silaturahim dengan orang yang memutusnya. Sema(ng)kin berat aja nih caranya. Berkunjung kepada orang yang tidak pernah membalas sapaan atau ucapan salam kita mungkin tidak pernah ada di dalam kamus kita. Ketiga, memberi maaf kepada orang yang tidak pernah memaafkan kita.  Lengkap sudah syarat-syarat berat itu. Apakah mungkin kita menerapkan ketiga sikap mulia itu tadi? Mungkin lah. Caranya?

Ya, kita bisa berlatih menerapkannya di jalan raya. Loh kok di jalan? Ya, karena kita tua di jalan. Benar kan? Sebagian besar waktu kita ada di perjalanan. Setiap hari mungkin lebih dari 3 jam kita habiskan di jalan raya. Tiga jam setiap hari dalam setahun itu waktu yang cukup lama lho. Oke, terus?

Sadarkah kita saat di jalan raya, hendak menyeberang itu sulitnya bukan main? Orang lain tidak pernah memberi kan? Nah, saatnya mulai dari sekarang kita memberi pada orang lain. Kurangi kecepatan kendaraan kita, beri mereka kesempatan untuk menyeberang. Mudah bukan? Kalau giliran kita diberi jalan, tidak sulit kan untuk memberikan anggukan kepala dan senyuman sebagai tanda terima kasih? Itu sudah menyambung tali silaturahim. Yang memberi jalan juga jadi ‘adem’ hatinya. Bahkan bisa jatuh hati. Nah yang terakhir ini yang paling sulit. Memberi maaf pada mereka yang main klakson sembarangan, yang salip kiri salip kanan seenak udel. Bawaannya kita selalu ingin membalas, betul tidak? Hayo ngaku..

Nah, kalau kita sudah terlatih menerapkan tiga cara itu di jalan raya, mudah-mudahan kita bisa juga menerapkannya di tempat lain. Di tempat kita bekerja misalnya. Di sekolahan anak kita. Apalagi di rumah kita. Kalau sudah begitu kita bisa menerapkannya di setiap saat di setiap waktu. Akan damai dunia. Betul tidak? (seperti kata AA Gym)

2 responses to “Menjadi mulia

  1. info yang berharga,
    salam kenal ya mas

  2. menjadi mulia mmg harapan setiap orangnya. mulia di dunia, bahagia diakhirat tentunya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s