Menghadapi hidup

Aku telah menulis tentang nenekku yang amat berjasa dalam membangun pondasi hidupku. Bahwa hidup itu harus bermanfaat bagi orang lain. Bahwa ilmu itu adalah segalanya. Bahwa untuk menambah ilmu tidak ada cara selain dengan mengajarkannya. Kini aku akan bercerita tentang anak pertama nenek dan keluarganya. Everybody is special, termasuk mereka.

Cecep namanya. Aku memanggilnya Wak Cecep. Ia ayah dari Rohman, sepupu juga sobat kecilku. Wak Cecep adalah kakak dari ibuku. Ia mewarisi hidung nenekku, yang juga diwariskannya hingga ke anak dan cucunya. Nampaknya gen bentuk hidung itu dominan ya. Ia menikah dengan Wak Yoyoh dan memiliki empat anak, Rohman, Wati, Nur dan Romlah. Kini hanya tinggal dua yang tersisa, Wati dan Nur saja.

Bagiku, kehidupan mereka mungkin seperti dalam cerita sinetron tentang kaum pinggiran Jakarta. Wak Cecep dahulu bekerja di kontraktor PT. Telkom. Ia sering bercerita tentang klien-klien yang rumahnya ia pasangi sambungan telepon. Tidak jarang ia bercerita tentang kehidupan A.M. Fatwa yang penuh perjuangan. Dahulu, aku tidak mengenal siapa itu A.M. Fatwa. Baru mengerti kini.

Uwak ku yang satu ini adalah seorang pencari ilmu sejati. Ia tidak peduli dari siapa ilmu itu datang. Apapun bentuknya, ilmu itu ia serap dan ia ajarkan kembali. Tidak jarang orang di sekitarnya yang memanggilnya Pak Ustad. Padahal belajar di pesantren pun tidak, begitu akunya.

Ia juga adalah seorang yang bersih. Tidak sedikit pun terbersit di benaknya untuk mencari rejeki yang tidak halal untuk keluarganya. Baginya kemiskinan yang halal lebih terhormat baginya. Pun ketika begitu banyak cobaan, anak-anaknya didera penyakit dan meninggal satu-per-satu.

Bahwa hidup itu adalah cobaan, begitu kemarin ia menasehatiku. Kemiskinan, penyakit, kekayaan, semuanya adalah cobaan. Hanya satu cara kita dapat menghadapinya. Yaitu dengan ketakwaan. Bagaimana kita mendapatkan ketakwaan itu? Tidak ada cara selain terus belajar menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Ah, pernyataannya menohok diriku. Pesannya kepadaku janganlah dunia ini terlalu begitu dicintai hingga membuat kita lupa tentang pentingnya beramal saleh.

Akhirnya aku tahu apa yang telah membuatnya bertahan hidup. Keyakinan bahwa semua hal itu adalah cobaan dan takdir dari Allah lah yang membuatnya bisa melalui hidup ini dengan sukses. Kematian dua anak yang dicintainya tidak membuatnya terpuruk, mundur dari hidup. Ia masih saja, bercerita dengan penuh semangat apa yang baik, apa yang harus dilakukan dalam hidup. Kepada siapa pun. Bagi mereka yang tidak mengenalnya, mungkin akan mencapnya cerewet, usil, terlalu mengatur orang lain. Tetapi itulah rahasianya. Ia secara tidak langsung berbagi kepada orang lain bagaimana menghadapi hidup, bukan hanya bertahan hidup.

Aku menyesal mengapa baru kini aku menyadari tentang betapa spesialnya ia. Aku menyadarinya ketika ibuku berkata kepadaku bahwa jika aku selama ini sibuk biar ia saja yang pergi ke Bandung menyambangiku. Ah, betapa tak tahu diuntungnya keponakannya yang satu ini. Betapa tak tahu adatnya aku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s