Anak bodoh karena ibu

Ada peribahasa yang mengatakan bahwa sejahat-jahatnya harimau tidak mungkin memakan anaknya sendiri. Sejahat-jahatnya seorang ibu, tidak mungkin ia menginginkan anaknya jahat. Sebodoh-bodohnya seorang ibu, pasti tidak ingin anaknya bodoh juga. Begitu kata Iwan Fals dalam lagunya Doa Pengobral Dosa. Jadi wajar kalau ibu-ibu jaman sekarang ini begitu giat menyekolahkan anaknya sejak dini. Kalau masih kurang juga, sang ibu berperan sebagai guru di rumahnya. Hasilnya? Bisa berhasil, bisa juga tidak karena seringkali sang ibu lah yang menyebabkan anak menjadi bodoh. Lho?

Benar, seringkali tanpa sadar ibu membuat anaknya menjadi bodoh. Bukan berarti ia tidak pernah mengajari anaknya. Ia bahkan menyekolahkan anaknya ke tempat belajar paling favorit. Makanan bergizi dan suplemen penambah vitamin pun tidak luput dijejalkan pada anak yang dicintainya. Tetapi tetap saja si anak bodoh. Taman bermain dan taman kanak-kanak seakan tidak memberikannya kemampuan membaca dan berhitung. Hal ini terjadi karena kesalahan stimulus yang diberikan oleh ibu.

Seperti kita tahu, otak anak berkembang pesat dalam periode usia 0 hingga 3 tahun. Setiap stimulus yang diberikan akan meningkatkan jumlah sinaps, hubungan antar sel otak. Semakin banyak sinaps maka kemampuannya untuk menyimpan memori akan semakin besar. Intinya, stimulus atau rangsangan itu akan meningkatkan kemampuan memori anak. Stimulus positif tentunya. Ajakan bermain ibu kepada anak sambil berhitung adalah stimulus positif. Bermain tebak huruf dan angka dari kartu bergambar, juga rangsangan positif. Begitu pula saat bermain di sekolahnya.

Sinaps akan hilang atau tidak berkembang jika stimulus negatif lah yang diberikan. Nampaknya tidak mungkin ibu memberikan hal yang negatif ya? Mungkin lah. Bahkan seringkali dilakukan tetapi tidak sadar. Mau contoh? Saat ibu mengajarkan berhitung dari satu sampai sepuluh dan meminta anak mengulangnya, seringkali si anak melewati satu angka tertentu. Ibu yang baik akan berkomentar, “Waduh pintar ya anak ibu sudah bisa berhitung”. Ibu yang (kurang) baik akan mengatakan, “Gimana sih? Salah dong. Setelah lima ya enam, bukan delapan. Masak begitu saja tidak bisa, dasar anak bodoh!”.

Nah, ada dua kesalahan di sini. Satu adalah ia tidak mengapresiasi usaha anak padahal apresiasi positif merupakan stimulus positif. Ada kenyamanan di sana. Saat ia merasa nyaman maka anak tidak akan pernah berhenti belajar. Sebaliknya, ia akan cepat merasa bosan bahkan berhenti belajar. Kesalahan kedua adalah, ibu mendoakan anaknya menjadi bodoh. Ya, sebab perkataan adalah doa. Sudah jelas doa seorang ibu itu mujarab.

Jadi, kalau kita ingin anak kita pintar, kita harus membangun sebuah paradigma berpikir bahwa semua anak itu pada dasarnya pintar. Perkembangan otak adalah sebuah proses alamiah, setiap anak akan mengalaminya. Kewajiban kita sebagai orang tua adalah memberikan suasana nyaman yang menjamin perkembangan otaknya. Jangan sekali-kali mengatakan anak kita bodoh, dungu, dan sebagainya. Sepakat?

3 responses to “Anak bodoh karena ibu

  1. Betul..sepakat.. meski sadar, terkadang sinaps didikan yang dulu menutupi kesadaran ituh…

    Alhamdulillah seh gak pernah, dan jangan sampai keluar ucapan yang bisa menciutkan sinaps-sinaps ituh..

  2. deal… setiap anak memiliki keistimewaan masing2, ungkapan positif akan membuat sang anak semakin optimis dan pede😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s