Tuhan menunggu

Bagi Anda yang pernah membaca Sang Pemimpi, salah satu dari tetralogi Andrea Hirata, pasti ingat apa yang ia katakan, bahwa Tuhan tidak pernah lupa, hanya menunggu. Tuhan membalas kenakalan Arai ketika kecil yang selalu mengucapkan amin dengan berteriak, saat shalat di belakang Hekmatyar. Selalu ada balasan akan setiap tindakan kita, entah itu perbuatan baik atau buruk. Sekarang atau nanti. Jika nanti, berarti Tuhan menunggu. Ia akan berikan di saat yang tepat. Seperti yang terjadi pada sohibku ini.

Sobatku yang satu ini terkenal tidak pernah berpikir dan bertindak neko-neko. Saat  tingkat akhir, prinsipnya simpel saja. Menuntaskan penelitian supaya lulus. Agar ia cepat bekerja dan membalas budi kedua orang tuanya. Titik. Tidak peduli hasutan setan yang mengajaknya untuk pergi. Tak ambil pusing harus menginap di hutan sendirian. Dedemit hutan pun mungkin sungkan padanya.

Terbukti ia lah yang paling cepat lulus di antara kami. Aku, yang dicap sebagai tukang protes, tukang banyak ulah, malah lulus paling akhir. The last mohicans, begitu sombongku berkata. Sementara sobatku yang satu ini, sebelum lulus pun telah bekerja sebagai peneliti di salah satu kawasan wisata di Pulau Buton. Mencari pengalaman, begitu katanya.

Banyak cerita yang ia bawa dari tempatnya bekerja. Tentang banyaknya burung-burung aneh di sana. Soal anoa. Juga tentang perilaku bule-bule yang juga meneliti di sana. Pun tentang sulitnya menjaga moral ketimurannya. Tentang bagaimana ia berupaya tidak ambil pusing soal perilaku bebas di antara mereka. Yang ia tahu hanya bekerja dan berharap ada setumpuk uang untuk dibawa ke Bandung, tuk senangkan kedua orang tuanya dan sekolahkan adik-adiknya.

Enam bulan yang lalu kami bertemu di kampus. Ia bercerita tentang rumahnya yang terbakar. Tentang hasil jerih payahnya yang menjadi abu. Ia hanya menyesalkan ijazahnya yang tiada. Mungkin karena hadiah terindah yang ia berikan kepada orang tuanya telah musnah. Aku coba menghiburnya bahwa jika ia sabar Tuhan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Sedikit basa-basi memang. Tapi pasti Tuhan mendengar. Yang pasti Tuhan telah mencatat track record sobatku yang satu ini dan Tuhan telah menunggu.

Malam ini, kudengar kabar ia tidak lagi bekerja di Pulau Buton. Ia tidak lagi harus menghabiskan delapan bulan dalam setahun di semak-semak alam liar. Ia tidak perlu lagi meninggalkan anak istri tercintanya. Kini, ia dapat memboyong anak-istri juga orang tua ke tempat barunya. Kini, ia telah bekerja di hotel berbintang lima di Pulau Bintan. Bukan hanya bekerja, tapi juga berperan sebagai petinggi di sana. Ia kini adalah manajer yang mengurusi Corporate Social Responsibility di bidang lingkungan. Ternyata, musibah kebakaran merupakan sebuah tahapan ujian syukur baginya. Bukankah jika bersyukur maka Tuhan akan menambah rejeki yang telah kita terima?

Untuk sahabat yang dulu tinggal di Leuwi Gajah, Cibeureum.

2 responses to “Tuhan menunggu

  1. Q jUja peNaH baCa saNg peMimpI…….

    keReN bGt!!!!

    pa iAaa,,,

    bErraRti TuHaN aKaN nGeBaLeS kEbaEkaN yH…..

    ky dy nGeBaLes kejaHaTaN………

  2. Subhanallah🙂

    :speechless:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s