Mamaku Bidadariku

Pukul 6 (pagi, bukan sore ya) aku sudah sampai di tempat ngetem. Bukan karena rajin atau kejar setoran tapi rasanya malas berjejalan di jalan, yang biasanya pasti terjadi setelah hari libur. Kata orang, pagi hari adalah waktu terbaik untuk menulis. Nyatanya buatku itu cuma teori saja. Yang ada malah ngantuk. Beruntung pukul 7 sudah ada tamu tak diundang yang membuatku tidak jadi berselonjor. Sambil ngobrol ngalor-ngidul, kubaca koran dua atau tiga hari yang lalu. Ternyata ada satu artikel yang membuatku terenyuh. Membuatku berpikir sudahkah aku menjadi seorang ayah yang baik. Seperti ia yakin bahwa ibunya adalah seorang bidadari.

Ia adalah Dewantara Soepardi, putra dari pasangan Poppy Devita Maharani dan Goyantara Soepardi. Dewa, begitu ia biasa dipanggil, menderita sebuah penyakit langka, Cerebral Palsy. Penyakit apa itu? Silakan saja Anda ‘gugling’😀 . Yang jelas, penyakit itu membuatnya kehilangan kemampuan motoriknya, bahkan untuk berbicara pun sulit. Usianya 5 tahunan, membuatku teringat akan Fauzan, anak sulungku (saat ini juga masih bungsu). Kalau Fauzan sekarang sudah bisa mengayuh sepeda (roda empat tentunya), Dewa hanya bisa duduk saja, bahkan menggerakkan tangan untuk bermain scrabble pun tidak bisa.

Yang membuatku takjub adalah daya ingat fotografik yang dimilikinya. Sejak usia 3 tahun ia sudah bisa membaca dan melahap 20-an buku per bulan, tutur ibunya. Karena kemampuan daya ingatnya yang seperti foto digital itu, tak heran jika kini ia bisa berbahasa Inggris, Mandarin, Jerman dan Indonesia, tentunya. Dibandingkan dengan Fauzan? Berbeda sedikit. Fauzan sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, … sedikit. Lebih banyak main. Terlalu banyak malah, sampai malas meladeninya. Dewa telah membuatku berpikir apakah aku telah menjadi seorang ayah yang ideal bagi Fauzan? Seperti Dewa yang menilai bahwa mamanya bidadarinya.

Apa yang membuatnya beranggapan demikian? Mama, bagi Dewa, adalah bidadari. Bidadari yang selalu tersenyum, menemaninya setiap hari. Bidadari yang setia menjaganya, tidak kenal lelah. Ulang-alik ke Amerika setiap enam bulan dilakoni tanpa pamrih. Kasih sayang dan perhatiannya membuat Dewa menjadi manusia, di usia yang belum cukup masuk SD sekalipun. Membuatnya tidak merasa menjadi manusia sampah, yang merepotkan orang lain.

Lah diriku? Aku adalah seorang ayah yang merasa cukup. Saat Fauzan mengajak bermain bola, aku bilang, “Cukup lima menit saja ya, Ayah mau belajar”. Saat Fauzan minta ditemani bermain Pet Shop Hop, aku katakan, “Cukup satu level saja ya, Ayah mau kerja”. Setelah membaca kisah Dewa, aku jadi berprasangka, jangan-jangan Fauzan berpikir, ” Gimana sih Ayah ini, di rumah kok kerja? Kumaha ieu teh.” Aku teringat juga, begitu mudahnya nada ketus meluncur dari mulutku, saat Fauzan sedikit saja berbuat salah. Aku jadi berpikir ini dan itu, membuatku takut akan kemungkinan Fauzan menjadi besar dan menjadikanku sebagai musuhnya. Bukan seperti Dewa, yang dengan lantang berkata, “Mamaku Bidadariku”.

20 responses to “Mamaku Bidadariku

  1. same with me,, she is all i ever had,,

  2. PerTAMAXx…..

    Wach Orang sunda nich kayaknya😀

    Main bola kok cuma 5 menit😀
    Tapi alasanya itu yang jadi dibenarkan🙂

  3. wow.. sangat menyentuh. semoga kita selalu bisa memberikan yang terbaik.

  4. Tapi kalo’ sampe Fauzan bilang “Ayahku bidadariku” kan jadi salah juga… ha ha ha😀

    Salam kenal.

    d.~

  5. hehe,, lucu
    mamaku, bidadariku

  6. dewa anak pintar🙂

  7. @dee: belum tentu salah, karena dia masih anak-anak.😀

  8. Sangat menyentuh banget, lilis tak mampu mengucap kata lagi

  9. nice post, menyentuh banget, kadang kita merasa tak punya waktu untuk hal2 kecil yang sebenarnya sangat berarti

  10. tidak usah takut kawan.
    semoga waktu kedepan anda bisa menjadi bapak yang luar biasa juga, yang dapat menyumbangkan waktunya dengan kualitas super untuk ananda tercintanya.
    semua masih bisa berubah, dan dewa mungkin bisa menjadi contoh terapan dari orang tua dalam memberikan yang terbaik pada buah hatinya dalam keterbatasan yang ada.

  11. Di setiap kejadian selalu ada hikmahnya, masih ada waktu utk melakukan perbaikan…

  12. emang bener kalo Surga ada di telapak kaki ibu, ya…

  13. posting sederhana tapi menyentuh…

    nggak gampang ya jd ayah…

  14. mengharukan…semoga jadi ayah yang oke..!!!

  15. mom is the best

  16. Ternyata mendidik anak itu gampang-gampang susahya…🙂

  17. mama adalah segalanya….ayah yang baik, yg pengen jadi bidadarii, eh salah jadi superhero aza deh mas🙂

  18. @deliastrawberry: setelah dibaca2 lagi, tulisan saya memang belum lengkap, bisa disalahtafsirkan bahwa saya ingin jadi bidadari. seharusnya jadi superhero atau superdady.. maklum lah masih amatiran😀

  19. sama dong.
    aku juga sering gitu. meski sebenarnya tanpa kita sadari kita telah melakukan pembunuhan karakter anak kita sendiri.
    bukankah anak bermain itu mengasah kreatifitasnya? kenapa seringkali kita hambat?
    anak corat-coret bukankah dia sedang mengembangkan imajinasinya?kenapa kita larang? dsb. memang harusnya kita lebih arif dan bijaksana. mungkin kita harus banyak belajar lagi bagaimana menjadi orang tua yang baik. salam kenal ya

  20. semoga saja bisa menjadi ayah yang baik…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s