Ketika Lewat Purnama

Adakah di antara kita yang tadi malam sepulang tarawih atau pagi tadi sehabis solat Subuh berjamah, yang memperhatikan bulan di langit? Pantulan cahayanya masih cukup menyinari gelapnya malam tapi bentuknya tak lagi sempurna. Ia tak lagi purnama, pertanda setengah bulan Ramadhan telah kita lalui. Gembirakah kita karena sebentar lagi Lebaran? Atau sedih karena sebentar lagi akan hilang sebuah suasana yang membuat kita lebih mudah beramal? Coba kita renungkan.

Ramadhan sebentar lagi berakhir tapi setengah Al-Quran pun belum habis kubaca. Setengah Ramadhan, tapi baru seperempat waktu yang terakhir kurasakan nikmatnya puasa. Dua belas hari lagi Ramadhan berakhir tapi kesibukan duniawi, masih tak terlihat ujungnya. Semua ini membuatku khawatir. Akankah derajat takwa bisa diraih? Akankah suci seperti bayi itu bisa diperoleh?

Darimana kita tahu bahwa takwa itu akan menjadi hadiah yang kita peroleh di akhir Ramadhan? Mungkin sudah terlalu sering kita mendengar bahwa tujuan utama kita berpuasa adalah agar dapat menjadi seorang yang bertakwa. Takwa disini bukan takut pada yang tuwa loh. Seseorang disebut bertakwa jika memenuhi kriteria seperti yang disebutkan Surat Ali-Imran ayat 133-134. Orang yang takwa adalah orang yang mengeluarkan hartanya di kala kaya dan miskin, saat senang dan susah, baik terang-terangan maupun sembunyi, dengan semangat ataupun terpaksa. Pokoknya dalam keadaan apapun ia tetap mengeluarkan hartanya di jalan Allah.

Lalu bagaimana jika kita tak memiliki harta? Bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa senyum kita pada saudara kita adalah sedekah? Bukankah uang yang kita peroleh dari bekerja dan digunakan untuk menafkahi keluarga adalah sedekah terbaik? Juga, zikir yang kita gumamkan adalah sedekah bagi anggota tubuh kita? Tetapnya kita dalam kebaikan dan jauh dari kemungkaran pun sebuah sedekah? Tetap meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan atau menjawab pertanyaan di kala kita sibuk pun, juga sebuah sedekah.

Yang disebut orang yang bertakwa juga adalah orang-orang yang mampu menahan amarahnya padahal mereka mampu untuk itu. Orang yang takwa tidak akan marah ketika pembantu, supir atau bawahannya berbuat kesalahan. Juga tidak akan marah ketika ada orang lain yang menyalipnya di antrian. Tetap menahan jempolnya untuk tidak memijit klakson ketika antri di lampu merah pun mungkin termasuk ke dalam kategori menahan amarah.

Yang terakhir, seorang yang bertakwa itu adalah orang mampu memaafkan orang lain. Apapun bentuk kesalahan orang lain, entah kita besar atau kecil, atau karena hal sepele atau hal besar, orang yang takwa akan memaafkan orang lain. Bahkan sebelum mereka meminta maaf.

Bulan Ramadhan, seperti kata kiyai, merupakan bulan yang tepat untuk latihan melakukan ketiga hal di atas. Sekaranglah saatnya kita belajar untuk bersedekah di segala macam situasi. Di bulan Ramadhan lah kita lebih mudah untuk belajar menahan amarah dan memaafkan orang lain. Tiga hal yang nampak mudah tapi cukup sulit untuk diterapkan ya? Kalau sekarang kita masih jauh dari kriteria tersebut, masih ada waktu dua belas hari lagi. Sekaranglah saatnya kita bertransformasi agar di akhir Ramadhan kita dapat memperoleh gelar sebagai orang yang bertakwa. Sebuah gelar istimewa yang diberikan Allah Pencipta alam semesta. Amin.Technorati Tags: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s