Masih Ada Harapan

Berolah raga, seperti futsal, seharusnya merupakan sebuah cara agar kita menjadi sehat, jiwa dan raga. Berolah raga idealnya dilakoni dengan hati senang, jangan sampai uring-uringan seperti yang saya alami kemarin. Bagaimana tidak uring-uringan, hingga pukul 16.30 baru ada lima orang yang hadir di lapangan. Cilaka. Saat itu saya pundung, hingga berniat untuk tidak akan lagi secara sukarela mengurus keinginan teman-teman yang katanya ingin bermain futsal. Saya pun sempat berujar pada seorang teman, “Yuk ah kita bayar lapang terus pulang”. Tapi alhamdulillah, ada serombongan malaikat kecil yang menjadi penyelamat.

Anak-anak itu tiba pada saat yang tepat. Mulanya saya ragu saat disarankan untuk mengajak mereka.  Daripada nggak main, begitu katanya. Saya berpikir, percuma juga mengajak mereka main karena postur tubuh mereka yang kecil-kecil. Setelah dipikir-pikir, boleh juga idenya. Tak ada anak besar, anak kecil pun jadi. Tak ada salahnya lah mengasuh anak kecil. Apa yang saya sangka sebelumnya ternyata tidak terbukti.

Anak-anak itu ruarrrr biasa. Permainan mereka ciamik. Pergerakan, baik dengan ataupun tanpa bola, seperti yang saya lihat di televisi. Ada fantasi dalam permainannya. Operan-operannya yahud. Kontrol bola juga demikian. Bahkan ada yang memperagakan gerak roulette ala Zidane. Begitupun teknik mereka menembak bola ke gawang, toyib.

Hari Rabu kemarin ternyata membawa berkah buat saya. Pernyataan yang mengatakan bahwa bakat-bakat pemain sepak bola di Indonesia itu banyak, saya buktikan dengan mata kepala sendiri. Tiga puluh menit bermain bersama mereka memberikan pengalaman yang tak terhingga. Mungkin mereka tidak pernah memiliki kesempatan untuk bermain di lapangan yang ideal, atau bahkan mereka hanya bermain di jalan aspal. Juga bisa jadi tidak ada pelatih yang mengajarkan teknik-teknik sepak bola yang baik. Kekurangan itu ternyata tidak menjadi hambatan bagi mereka untuk meniru, dengan baik tentunya, apa yang mereka lihat di televisi. Atau apa yang mereka pelajari lewat permainan Playstation.

Tiga puluh menit bermain bersama malaikat-malaikat kecil cukup memberikan keyakinan bagi saya, bahwa ternyata masih ada harapan sepak bola Indonesia tidak lagi dipandang sebelah mata. Waktu yang sebentar itu tidak membuat saya ragu untuk mengajak mereka untuk datang kembali minggu depan. Apalah artinya sekian rupiah untuk membayar sewa lapangan dibandingkan dengan nikmatnya bermain bola dengan Riki, Juki, Ajat kecil seperti mereka.

One response to “Masih Ada Harapan

  1. lain kali ajakin saya maen futsal ya pak..
    saya juga bisa roulette nya zidane pak..hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s