Category Archives: Bagi-bagi

Aplikasi Gawat Darurat

Pagi ini saya mendapat kabar duka dari seorang sahabat. Keponakannya yang baru berusia 3 bulan berpulang ke Rahmatullah. Katanya, ada kelainan jantung dan tidak mendapat tempat (kamar) di RSCM dan RS Harapan Kita.Berapa lama seorang manusia hidup itu adalah rahasia Allah. Umur seseorang sudah ditetapkan sejak di Lauhul Mahfuz. Ia tidak dapat ditunda atau dipercepat.

Kejadian ini membuat saya teringat akan diskusi saya dengan salah seorang mahasiswa TI Universitas Ibnu Khaldun Bogor. Ia bertanya kepada saya kira-kira topik apa yang menarik untuk dijadikan penelitian. Karena ia seorang penyuplai peralatan medis, maka saya usulkan tentang sebuah aplikasi terkait bidang kerjanya, yaitu aplikasi mobil Gawat Darurat.

Ide ini muncul karena begitu banyaknya kejadian di mana pasien gawat darurat tidak tertolong, gara-gara terlalu lama di perjalanan. Terlalu lama mencari rumah sakit yang dapat menangani pasien. Tidak jarang kita mendengar, pasien terpaksa harus dibawa ke rumah sakit lain karena tidak adanya peralatan, tidak adanya kamar atau terjebak kemacetan.

Kami berandai-andai apabila ada sebuah aplikasi mobil yang dapat memudahkan keluarga pasien mengambil keputusan. Dengan memasukkan parameter-parameter tertentu ke dalam aplikasi mobil, seperti jenis penyakit, dan sebagainya, yang saya tidak mengerti (seorang dokter mungkin paham), aplikasi akan memberikan saran ke rumah sakit yang harus dituju.

Aplikasi mobil akan memberikan saran jika dan hanya jika informasi mengenai semua rumah sakit terdekat dapat diakses. Informasi seperti jumlah kamar yang kosong, fasilitas, dokter ahli, dan lainnya (lagi-lagi saya tidak paham akan hal ini, seorang dokter lah yang harusnya mengerti), ditambah informasi rute dan kondisi lalu-lintas, yang akan membantu aplikasi memberikan usulan jalur tercepat, akan menjadi masukan berharga dalam pengambilan keputusan.

Akan lebih bagus lagi, ketika pasien menekan tombol (katakanlah, tombol “Order”), pesan ini diterima oleh rumah sakit yang dituju. Dengan cara ini, ketika pasien tiba di rumah sakit, tim medis telah siap dengan peralatan lengkap dan dapat langsung melakukan penanganan.

Bila dapat dibuat lebih canggih lagi, apabila informasi rekam medis pasien langsung terkirim ke rumah sakit yang dituju. Dengan cara ini, tim medis dapat melakukan briefing sebelum pasien tiba di rumah sakit. Sudah tentu ini hanya akan dapat dicapai apabila semua warga negara memiliki satu nomor identitas, yang terhubung dengan semua layanan di Indonesia.

Bagi kami, ide seperti ini sebenarnya dapat diimplementasikan. Salah satu masalahnya adalah apakah rumah sakit siap untuk membuka informasinya (misal, dalam bentuk API), sehingga pengembang aplikasi tinggal comot. Masalah lainnya adalah apakah rumah sakit siap menerima pasien tanpa bertanya soal kemampuan finansial, BPJS atau bukan. Dan masalah-masalah lain yang sebenarnya mungkin bukan masalah.Bagaimana, ada yang setuju dengan ide ini?

 

To change is the key to survive

There are 31,530,000 seconds in a year
1,000 milliseconds in a second
A million microseconds
A billion nanoseconds
And the one constant, connecting nanoseconds to years
is change.

The universe.
From atom to galaxy,
is in a perpetual state of flux.

But we humans
don’t like change.
We fight it. It scares us.

So we create the illusion of stasis.
We want to believe in a world at rest,
the world of right now.

Yet our great paradox
remains the same…

The moment
we grasp the “now”…
that “now” is gone.

We cling to snapshots.
But life is moving pictures.
Each nanosecond
different from the last.

Time forces us to grow.
To adapt.
Because every time
we blink our eyes…
the world shifts beneath our feet.

……

Change isn’t easy
More often, it’s wrenching and difficult.
But maybe that’s a good thing
that makes us strong.
Keeps us resilient
It teaches us to evolve

(Jake Bohm, Touch S01E12)

Jangan Asal Bicara

Ada pepatah mengatakan, ‘mulutmu harimaumu’. Di dalam Islam, kita juga tahu bahwa ‘ucapan adalah do’a’. Dua hal ini yang langsung ada dalam ingatan saya setelah membaca status Facebook seorang teman. Ada satu cerita yang masih tersimpan rapi di otak saya, sebuah kisah yang dituturkan oleh ayah dari sahabat saya, Yuvan. Begini ceritanya … Baca lebih lanjut

Masih Ada Orang Baik

Saya termasuk salah seorang yang tidak percaya bahwa Indonesia akan menjadi sebuah negara maju. Lah bagaimana mau maju, hampir semua elemen bangsa ini hanya berpikir tentang dirinya, golongannya sendiri. Kita bisa tengok apa yang tersaji di media massa. Kita juga bisa lihat bagaimana mentalitas bangsa ini di jalan raya. Semuanya ingin menang sendiri. Sebuah bangsa hanya akan menjadi maju jika rakyatnya mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Ini tidak dimiliki oleh mayoritas bangsa Indonesia. Begitu pikirku selama ini. Hanya saja dua hari yang lalu, saya menyadari ternyata masih ada orang baik di negeri. Orang baik yang mungkin saja menjadi sebab bangsa ini bangkit dari keterbelakangan.
Baca lebih lanjut

Sopan santun

Dokter jaga: Bayi Ny. Wawan?

Ayah : Ny. Wawang, ya.

Dokter jaga: Anak ke berapa?

Ayah : Kedua Dok.

Dokter jaga : Ada riwayat kuning?

Ayah : Tidak ada Dok.

Dokter memeriksa detak jantung anak kami yang kedua, sementara Ibu sudah bangun.

Ibu : Kira-kira kenapa ya Dok, bisa kuning, padahal anak pertama kami tidak begitu?

Dokter jaga : ….

Dokter jaga : Tolong ini nanti kalau panas, tirainya dibuka ya.

Setelah itu, dokter jaga ngeloyor pergi, membelakangi kami berdua.

Kami berdua terpana. Saya berpikir, “Loh, si dokter mau pergi kemana? Kok gak bilang-bilang?”. Dokter jaga itu memang masih muda, mungkin masih di bawah 30 tahun. Tapi seusia itu kan harusnya tahu tatakrama. Saya tidak habis pikir, apakah untuk mendapat sertifikat dokter tidak diajarkan sopan santun. Padahal tadi malam, saya melihat di meja resepsionis ada SOP untuk menjawab telepon. Mereka dianjurkan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu. Lah ini, dokter yang secara intelektual lebih tinggi dibandingkan resepsionis, tapi datang tidak mengucapkan salam, pergi pun tak pamit.

Dokter jaga kok kalah oleh petugas penyapu lantai. Mereka saat datang mengucapkan salam, secara islami pula. Saat menyapu dan mengepel lantai pun mengucapkan permisi karena mengganggu. Saya jadi berpikir, apakah memang ada yang salah dengan budaya kita saat ini? Apakah sopan santun hanya berlaku bagi mereka yang (dianggap) lebih rendah bukan bagi mereka yang kastanya lebih tinggi?

Memang, kami baru menemukan satu kasus seperti ini. Mungkin beliau lupa. Atau memang begitu karakternya, cuek. Kami hanya berkomentar saja, lewat  blog ini, mudah-mudahan yang umum bukanlah seperti ini. Seperti dokter jaga tadi malam, yang begitu ramah, penuh senyum melayani kami hingga anak kami sampai ke ruangan perawatan. Mudah-mudahan ini hanya perasaan Dik Firman saja.

Multitugas

Salah satu hal yang terpaksa dilakukan seorang suami saat istri bekerja adalah mengasuh anak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pada dasarnya seorang suami tidak mau menjalankan peran istri dalam menjaga dan mengasuh anak. Salah satu alasannya karena tidak mau pekerjaannya terganggu. Kalaupun dijalani, yang biasanya terjadi adalah sang ayah tetap ayik dengan laptopnya sementara si anak bermain sendirian tanpa pengawasan. Setidaknya itulah yang biasa saya lakukan. Hasilnya? Anak menjadi tidak terawat secara fisik maupun psikisnya (alias kurang bermain). Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Mau tahu triknya?

Baca lebih lanjut

Dua jam yang begitu bermakna

Juli 2002. Di sebuah ruang kuliah, tidak ber-AC, satu buah meja kayu dan dua kursi merk Chitose dengan posisi saling berhadapan. Salah satunya menghadap ke utara diduduki olehku, yang saat itu merasa seperti seorang pesakitan. Jantungku berdegup kencang, duduk salah tingkah, jari-jari tangan bergerak tanpa disadari. Orang Sunda bilang, “teu puguh cagap“. Pertama kalinya dalam hidup menjalani sebuah wawancara, setelah satu tahun lebih diluluskan dari bangku kuliah. Bukan wawancara kerja tetapi wawancara untuk kuliah lagi. Sebuah pilihan yang mau tidak mau harus kuambil saat itu. Juga bukan wawancara biasa, karena ada sebagian isinya yang masih begitu jelas dalam ingatan.

Baca lebih lanjut