Konversi data vektor ke raster

GRASS GIS, sebuah perangkat lunak open source remote sensing / GIS, adalah perangkat lunak andalan saya dalam melakukan proses konversi data dari vektor ke raster. Mengapa? Karena GRASS GIS dapat diandalkan dalam cleaning topology. Seringkali kita mendapatkan data vektor yang tidak jelas asal-usulnya, tidak jelas pula topologinya. Kalau begini, kadang-kadang (atau sering), saat kita menghitung luas kelas lahan tertentu misalnya, luas total obyeknya akan lebih besar dari luas wilayah sebenarnya. Nah, di sinilah GRASS GIS bisa menjadi pahlawan bertopeng, penolong untuk mempercepat proses analisis 😀 .

Baca lebih lanjut

Iklan

To change is the key to survive

There are 31,530,000 seconds in a year
1,000 milliseconds in a second
A million microseconds
A billion nanoseconds
And the one constant, connecting nanoseconds to years
is change.

The universe.
From atom to galaxy,
is in a perpetual state of flux.

But we humans
don’t like change.
We fight it. It scares us.

So we create the illusion of stasis.
We want to believe in a world at rest,
the world of right now.

Yet our great paradox
remains the same…

The moment
we grasp the “now”…
that “now” is gone.

We cling to snapshots.
But life is moving pictures.
Each nanosecond
different from the last.

Time forces us to grow.
To adapt.
Because every time
we blink our eyes…
the world shifts beneath our feet.

……

Change isn’t easy
More often, it’s wrenching and difficult.
But maybe that’s a good thing
that makes us strong.
Keeps us resilient
It teaches us to evolve

(Jake Bohm, Touch S01E12)

Jangan Asal Bicara

Ada pepatah mengatakan, ‘mulutmu harimaumu’. Di dalam Islam, kita juga tahu bahwa ‘ucapan adalah do’a’. Dua hal ini yang langsung ada dalam ingatan saya setelah membaca status Facebook seorang teman. Ada satu cerita yang masih tersimpan rapi di otak saya, sebuah kisah yang dituturkan oleh ayah dari sahabat saya, Yuvan. Begini ceritanya … Baca lebih lanjut

Coba pikir-pikir lagi

Setelah 4 jam terus-menerus bertelepon menanggapi seseorang yang mengalami depresi berat …

Sukarelawan : “Hey bung, melihat masalah Anda begitu berat, pernahkah Anda berpikir untuk bunuh diri?”

Anonimus : “Tidak pernah dan tidak akan pernah. Haram hukumnya tahu?”

Sukarelawan : “Hmm.. sebaiknya Anda mulai pikirkan itu dari sekarang.”

(Sambil berharap sambungan telepon diputus).

Anonimus : “&$^&$^!!!”.

 

Masih Ada Orang Baik

Saya termasuk salah seorang yang tidak percaya bahwa Indonesia akan menjadi sebuah negara maju. Lah bagaimana mau maju, hampir semua elemen bangsa ini hanya berpikir tentang dirinya, golongannya sendiri. Kita bisa tengok apa yang tersaji di media massa. Kita juga bisa lihat bagaimana mentalitas bangsa ini di jalan raya. Semuanya ingin menang sendiri. Sebuah bangsa hanya akan menjadi maju jika rakyatnya mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dirinya sendiri. Ini tidak dimiliki oleh mayoritas bangsa Indonesia. Begitu pikirku selama ini. Hanya saja dua hari yang lalu, saya menyadari ternyata masih ada orang baik di negeri. Orang baik yang mungkin saja menjadi sebab bangsa ini bangkit dari keterbelakangan.
Baca lebih lanjut

Sopan santun

Dokter jaga: Bayi Ny. Wawan?

Ayah : Ny. Wawang, ya.

Dokter jaga: Anak ke berapa?

Ayah : Kedua Dok.

Dokter jaga : Ada riwayat kuning?

Ayah : Tidak ada Dok.

Dokter memeriksa detak jantung anak kami yang kedua, sementara Ibu sudah bangun.

Ibu : Kira-kira kenapa ya Dok, bisa kuning, padahal anak pertama kami tidak begitu?

Dokter jaga : ….

Dokter jaga : Tolong ini nanti kalau panas, tirainya dibuka ya.

Setelah itu, dokter jaga ngeloyor pergi, membelakangi kami berdua.

Kami berdua terpana. Saya berpikir, “Loh, si dokter mau pergi kemana? Kok gak bilang-bilang?”. Dokter jaga itu memang masih muda, mungkin masih di bawah 30 tahun. Tapi seusia itu kan harusnya tahu tatakrama. Saya tidak habis pikir, apakah untuk mendapat sertifikat dokter tidak diajarkan sopan santun. Padahal tadi malam, saya melihat di meja resepsionis ada SOP untuk menjawab telepon. Mereka dianjurkan untuk mengucapkan salam terlebih dahulu. Lah ini, dokter yang secara intelektual lebih tinggi dibandingkan resepsionis, tapi datang tidak mengucapkan salam, pergi pun tak pamit.

Dokter jaga kok kalah oleh petugas penyapu lantai. Mereka saat datang mengucapkan salam, secara islami pula. Saat menyapu dan mengepel lantai pun mengucapkan permisi karena mengganggu. Saya jadi berpikir, apakah memang ada yang salah dengan budaya kita saat ini? Apakah sopan santun hanya berlaku bagi mereka yang (dianggap) lebih rendah bukan bagi mereka yang kastanya lebih tinggi?

Memang, kami baru menemukan satu kasus seperti ini. Mungkin beliau lupa. Atau memang begitu karakternya, cuek. Kami hanya berkomentar saja, lewat  blog ini, mudah-mudahan yang umum bukanlah seperti ini. Seperti dokter jaga tadi malam, yang begitu ramah, penuh senyum melayani kami hingga anak kami sampai ke ruangan perawatan. Mudah-mudahan ini hanya perasaan Dik Firman saja.

Multitugas

Salah satu hal yang terpaksa dilakukan seorang suami saat istri bekerja adalah mengasuh anak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pada dasarnya seorang suami tidak mau menjalankan peran istri dalam menjaga dan mengasuh anak. Salah satu alasannya karena tidak mau pekerjaannya terganggu. Kalaupun dijalani, yang biasanya terjadi adalah sang ayah tetap ayik dengan laptopnya sementara si anak bermain sendirian tanpa pengawasan. Setidaknya itulah yang biasa saya lakukan. Hasilnya? Anak menjadi tidak terawat secara fisik maupun psikisnya (alias kurang bermain). Tapi itu dulu, sekarang tidak lagi. Mau tahu triknya?

Baca lebih lanjut